Article Index
Serial "PMK"
Page 2
Page 3
Page 4
All Pages

MENCARI JATI DIRI

Oleh : Bambang – Sulies


Siapakah diri kita?

Sering kita jumpai dimasyarakat, para pelajar dan mahasiswa sebagai kelompok muda mudi seperti sedang berada di dunia mereka sendiri, dengan penampilan yang kadang terasa aneh. Ada laki-laki yang mengenakan anting sebesar gelang tapi hanya sebelah, kadang antingnya tidak dipasang di telinga tapi di hidung atau di bibir.

Ada pula yang rambutnya dicat warna warni, atau dikepang hingga seratus untaian, atau dibuat model rambut yang sama persis seperti artis idola yang selalu dibanggakannya. Di dalam meniru bintang film atau artis pujaannya, seorang pelajar atau mahasiswa tidak segan-segan menguras tabungannya hanya untuk membeli pernak pernik yang dipakai oleh artis pujaan tersebut, mulai dari aksesoris hingga baju dan sepatu. Bahkan demi untuk mencapai penampilan agar mirip dengan artis pujaan itu, dia rela meninggalkan kaida-kaidah agama dan adat istiadat, mulai dari gaya berbusana hingga gaya hidupnya.

Obsesi muda mudi untuk berpenampilan sama dengan tokoh yang menjadi idolanya kadang mengandung bahaya. Kenapa? Karena kecintaannya yang berlebihan terhadap tokoh idolanya bisa membunuh karakternya sendiri. Orang yang diidolakannya itu tampak sempurna di matanya, hanya menurut sudut pandangnya saja. Dan karena kecintaannya yang berlebihan itu, dia tidak lagi melihat dengan jernih, apakah orang yang diidolakannya mempunyai mental dan karakter yang sesuai dengan norma agama. Apabila mental dan karakter tokoh tersebut sudah jelas menyimpang dari norma agama, maka akibatnya sangat fatal. Bagi muda mudi yang beragama Islam, gara-gara penampilan yang berubah seperti tokoh idolanya, dengan gaya busana dan penampilan yang tidak islami, bisa jadi orang yang tadinya taat beragama, rajin ke Masjid, kini jadi merasa risih untuk masuk ke Masjid. Akhirnya makin lama makin jauh dengan Masjid dan mulai menggeser nilai-nilai islam.

Kenapa anak-anak muda melakukan pencarian jati diri yang seperti itu? Betulkah mereka telah menemukan jati diri? Apakah setelah menemukan tokoh idola itu, mereka menemukan kebahagiaan yang hakiki? Yang lebih mengkhawatirkan lagi, akibat obsesinya terhadap idolanya secara berlebihan, muda mudi muslimin dan muslimah menjadi lupa terhadap para tauladan islam yang seharusnya menjadi idola sepanjang masa. Jangan-jangan mereka lupa bagaimana keteladanan Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat yang amanah, jujur, sabar, dan cerdas.

Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladan yang seharusnya dicontoh akhlaknya dan perjuangannya oleh seluruh umatnya, termasuk para muda-mudi muslimin dan muslimah. Menurut Ahmad Al Jada’ dalam bukunya “Meneladani kecerdasan emosi Nabi” terdapat contoh-contoh akhlak mulia yang membuat Nabi Muhammad SAW begitu dicintai para sahabatnya dan para umatnya. Ketenangan jiwanya menimbulkan kewibawaan di hati setiap orang yang melihatnya. Senyumnya yang tulus, keluar dari hati yang ikhlas dan cinta yang murni. Sikapnya yang lemah lembut, supel dalam bergaul, mudah menyentuh jiwa bagi siapa saja yang diajaknya bicara. Hanya orang-orang dengki saja yang tidak tersentuh jiwanya. Allah berfirman :

“Karena karunia Allah, engkau (Muhammad) dapat berlaku lemah lembut kepada mereka. Andai lidahmu ketus dan hatimu keras, tentu mereka akan menjauhimu” (QS. Ali Imran : 159)

Nabi Muhammad SAW juga seorang pemaaf yang baik dan bijak, lemah lembut, dan penuh kasih sayang sehingga bisa mengubah lawan menjadi teman. Nabi Muhammad tetap menghargai musuh yang mau menghargai islam, akan tetapi bersikap tegas terhadap musuh yang keras kepala. Kegigihan, keberanian, kecerdasan dan keyakinannya akan pertolongan Allah dapat menggetarkan musuh-musuh islam sehingga meraih kemenangan dalam menegakkan ajaran islam. Meskipun ia adalah seorang utusan Allah yang mulia namun Nabi kita ini tetap rendah hati, santun dan kadang-kadang suka bercanda. Keteguhannya dalam membela kebenaran dan menegakkan keadilan, serta kecerdasannya dalam memahami perasaan orang lain, dapat membuat orang yang semula memusuhinya berbalik arah untuk mencintainya, bahkan membela perjuangannya dengan harta dan jiwa.

Selain melupakan keteladanan Rasulullah SAW, jangan-jangan muda mudi generasi muslim kini tak kenal lagi dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq ra, sahabat Rasul yang berhati lembut, dengan keyakinannya yang dalam dan intelektual yang luar biasa. Jangan-jangan mereka juga tak kenal lagi dengan Umar Ibnul Khattab ra, sosok muttaqin yang tegas, bijak dan adil, dengan kemampuan leadershipnya yang mempesona. Demikian pula Usman bin Affan, yang dermawan dan mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi, serta Ali bin Abi Thalib ra, dengan kecerdasan intelektual yang hebat dan kehandalannya dalam dunia militer. Selain itu, jangan-jangan para pemudi muslimah juga tak kenal lagi dengan Siti Aisyah ra, ummul mukminin yang solehah dengan kecerdasannya yang brillian. Demikian pula masih banyak para sahabat Nabi yang sepatutnya dicontoh dalam berperilaku, namun muda mudi sekarang lebih cenderung memilih tokoh-tokoh lain seringkali membrikan contoh yang tidak islami.

Pertanyaannya adalah, kenapa banyak muda mudi generasi muslim melakukan pencarian jati diri secara keliru? Apakah mungkin mereka memang belum tahu akan jati diri yang sesungguhnya, sehingga dalam hatinya selalu bertaya-tanya, siapakah aku? Untuk apa aku diciptakan? Sungguh memprihatinkan jika pertanyaan itu sering muncul namun tidak ada pencerahan yang dapat memberikan jawaban.


Jati Diri Yang Sesungguhnya

  • Manusia sebagai hamba Allah.

Allah SWT menciptakan manusia agar menjadi hambaNy yang taat ditegaskan dalam Alqur’an surat Adz Dzoriat ayat 56 : ”Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. Tentu saja pengertian ibadah itu luas, tidak sebatas pada ibadah ritual seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Bekerja, belajar, dan aktivitas yang lain dapat bernilai ibadah jika dilakukan untuk mencari keridhoan Allah.

Ritual ibadah yang dilakukan dengan hati akan menghasilkan 5 karakter ketakwaan, yaitu :

  1. Kepekaan hati saat mendengar nama Allah (buah dari pengamalan syahadat)
  2. Kebersihan jiwa, jauh dari perbuatan keji dan munkar (buah dari pengamalan sholat)
  3. Kepekaan sosial (buah dari pengamalan zakat)
  4. Kesabaran dan ketahanan mental (buah dari pengamalan puasa)
  5. Kepedulian dan keteladanan (buah dari pengamalan haji)

Ibadah yang dilakukan tanpa mengahdirkan hatinya tidak akan membuahkan karakter ketakwaan seperti di atas. Jika ibadah hanya dilakukan sebatas ritual untuk menggugurkan kewajiban saja, maka tidak akan membekas dalam perilakunya sehingga tidak mampu memperbaiki akhlaknya.

  • Manusia sebagai khalifah di bumi.

Setelah Allah Al Kholiq menciptakan alam semesta beserta bumi yang nyaman untuk dihuni makhluk, maka selanjutnya Allah menciptakan manusia. Ketika Allah SWT berkehendak untuk meciptakan manusia pertama yaitu Nabi Adam as, terjadilah dialog antara Allah SWT dengan Malaikat, yang pada intinya bahwa Malaikat mempertanyakan kenapa Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi? Menurut pandangan Malaikat itu nantinya manusia akan berbuat kerusakan padahal mereka senantiasa bertasbih dan memuji Allah. Lalu Allah menjawab bahwa Allah Maha mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Malaikat. Dialog ini sangat tajam dikisahkan dalam Alqur’an Surat Al Baqarah: 30-37. Kisah tersebut menggambarkan betapa Allah SWT Yang Maha Kuasa telah menetapkan jati diri manusia sebagai khalifah di bumi ini. Betapa Allah SWT telah mengangkat derajat dan martabat manusia untuk mengemban misi sebagai khalifah di bumi, dengan tidak memberikan amanah itu kepada Malaikat.

Khalifah adalah pemimpin yang amanah, yang bertugas untuk memelihara bumi, memakmurkan bumi. Pengertian khalifah di sini bahwa, seseorang yang dipercaya sebagai pemimpin haruslah memegang amanah itu dengan baik karena kepemimpinannya kelak akan dimintai pertanggung jawaban di pengadilan Allah Yang Maha Agung. Sedangkan yang dimaksud pemimpin bisa saja pemimpin negara, pemimpin daerah, kantor, sekolah, dan pemimpin masyarakat yang lain, minimal pemimpin keluarga dan pemimpin bagi diri sendiri. Dengan demikian setiap manusia adalah pemimpin, dan setiap pemimpin harus mempertanggung jawabkan amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

  • Manusia sebagai pembelajar sejati.

Jati diri manusia juga diungkapkan dalam wahyu pertama yang diterima Nabi Muhamad SAW di gua hiro’ yaitu Surat Al ‘Alaq ayat 1: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Kata “bacalah” bermakna “belajarlah” dalam arti luas. Membaca berarti belajar yang bisa ditempuh dengan berbagai cara seperti membaca buku, majalah, koran, artikel journal, dan lain-lain. ”Membaca” juga bisa bermakna tidak harus membaca buku, melainkan juga membaca pikiran orang, membaca situasi, membaca perasaan orang lain, membaca fenomena alam semesta, dan lain-lain. Kalimat “dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” bermakna bahwa belajar harus menggunakan metode yang benar. Belajar juga berarti melakukan penelitian ilmiah atau riset yang harus dilakukan dengan metodologi tertentu, sehingga dapat menghasilkan sebuah penemuan hal baru, atau sebuah inovasi yang kreatif. Sebuah riset yang tidak berlandaskan pada metodologi yang kuat tidak akan membuahkan hasil dan kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Proses pembelajaran dengan metoda yang effektif akan membuahkan hasil berupa kesuksesan. Untuk itulah metoda QPL dibuat, agar proses belajar menjadi mudah dan menyenangkan, tidak lagi terasa sulit dan membosankan. Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Ilmu telah mengkaruniakan perangkat untuk belajar berupa otak dan hati dengan potensi dan kapasitas yang luar biasa.



Bekal mental untuk menjalankan misi sebagai khalifah di bumi.

Allah SWT menugaskan manusia sebagai khalifah di bumi tentu saja memberi bekal yang memadai agar misinya tercapai. Bekal yang diberikan kepada kita sangat lengkap meliputi hardware dan software. Layaknya sebuah komputer, hardware kita meliputi tubuh kita yang dikendalikan oleh otak dan panca indera. Sedangkan software kita meliputi mental dan karakter yang dikendalikan oleh jiwa, pikiran dan perasaan (hati).

Mental merupakan kondisi kejiwaan seseorang yang mencerminkan suasana hati dan pikirannya kemudian terlahir dalam perilakunya. Menurut dr. Maisarah, dokter ahli jiwa dalam bukunya ”Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim”, struktur jiwa manusia dibagi ke dalam tiga bagian yaitu akal (kalbu), hati nurani dan nafsu.

Akal adalah bagian dari jiwa yang merupakan alat untuk mengetahui ilmu yang berasal dari pengamatan indera manusia, dan salah satu fungsi akal yang utama adalah untuk berpikir. Ayat-ayat dalam Al Qur’an menjelaskan bahwa fungsi akal yang dikehendaki Allah Yang Maha Ilmu adalah untuk menangkap informasi dari alam semesta, mengamati fenomena alam nyata, lalu mengolahnya dan melakukan analisis hingga sampai pada keyakinan akan kebesaran Allah dengan segala ketentuan (sunnah)Nya. Misalnya keyakinan akan perputaran bumi, bulan dan matahari untuk perhitungan waktu, keyakinan akan terjadinya hujan karena terlihatnya awan, dan sebagainya. Salah satu ayat yang menjelaskan tentang akal adalah : “ …sungguh terdapat keEsaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang berakal” (QS. Al Baqarah : 164).

Sedangkan kalbu lebih cenderung menangkap informasi dari alam ghaib melalui pendengaran dan penglihatan di alam ruhani, yang berfungsi untuk melihat dan mendengar ayat-ayat Allah. Selanjutnya mengolah informasi yang didapat hingga akhirnya sampai pada keyakinan akan segala ketentuan Allah dalam tataran ruhani, misalnya keyakinan adanya Allah, malaikat, surga dan neraka, dan lain-lain. Bagi orang mukmin Allah memperluas kalbunya untuk menampung takwa sebagaimana Firman Allah SWT : “ …mereka itulah yang diperluas kalbunya untuk menampung takwa” (QS. Al Hujuraat : 3). Selanjutnya manusia mengamalkan keyakinan yang diperoleh dari akal dan kalbu untuk mengemban amanah sebagai wakil Allah di bumi. Akal dan kalbu sangat besar peranannya dalam pengambilan keputusan sebelum seseorang berperilaku dan bertindak, oleh karena itu kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Hati nurani adalah bagian dari jiwa yang berisi suara hati yang bersumber dari Ruh Ilahi. Para ulama menetapkan hati nurani (Ruh Ilahi) sebagai refleksi kehadiran Ilahi dalam manusia, yang setiap saat memberikan pertimbangan, menilai dan menghukum kerja akal, kalbu dan nafsu sesuai dengan tuntunan Ilahi. Nilai-nilai dalam hati nurani menurut para ulama diyakini sebagai suara hati yang mendorong sifat-sifat mulia yang mengacu pada sifat-sifat Allah yang dikenal dengan Asmaul Husna. Salah satu ayat tentang tiupan Ruh Ilahiah adalah “ Kemudian Ia memberinya bentuk (dengan perbandingan dan ukuran yang baik), dan meniupkan ke dalamnya Ruh (ciptaan)Nya. Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan (perasaan) hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur” (QS. As Sajdah : 9)

Suara hati di dalam jiwa manusia bersifat universal, karena seluruh manusia diciptakan oleh pencipta yang sama, Allah Yang Maha Esa, Al Khalik. Siapapun manusia itu, apakah dia muslim atau bukan, orang barat atau orang timur, berkulit putih atau hitam, di belahan manapun di bumi ini, semuanya setuju pada nilai-nilai yang selaras dengan suara hati seperti kasih sayang, kejujuran, kebenaran, kebijaksanaan, kemuliaan, kadilan, kesejahteraan, tanggung jawab, kreatifitas, dan lain-lain. Dengan Ruh itulah Allah berkehendak agar manusia menggunakan suara hatinya yang berisi sifat-sifat mulia untuk menjalankan misi sebagai wakil Allah di bumi.

Nafsu adalah bagian dari jiwa yang berisi tuntutan kebutuhan yang bertujuan untuk mencegah manusia dari penderitaan dan memperoleh kesenangan. Agar seseorang dapat mendengar suara hatinya dengan baik maka ia harus dapat mengendalikan nafsunya, sehingga tuntutan kebutuhannya tidak berlebihan karena sesungguhnya Allah tidak menyukai hal yang berlebih-lebihan. Nabi Yusuf adalah teladan dalam mengendalikan nafsunya seperti dikisahkan dalam Al Qur’an : “Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah” (QS. Yusuf : 53)

Nafsu yang tidak terkendali adalah seperti nafsu makan yang menuntut berlebihan dalam jumlah maupun kualitasnya, begitu pula nafsu seksual yang tidak pada tempatnya (tidak halal), nafsu berlebihan dalam berpakaian mahal untuk gengsi diri, nafsu berlebihan mencari kehormatan, kekayaan, dan sebagainya. Nafsu yang tidak terkendali akan dilaknat Allah karena mendorong kepada kejahatan, menutup hati nurani dan membuka peluang bagi setan untuk membujuk pada perbuatan sesat. Misalnya nafsu ingin segera kaya dapat menyebabkan perbuatan korupsi, nafsu ingin segera naik jabatan menyebabkan perbuatan syirik karena pergi ke dukun, tukang santet, dan paranormal, dan sebagainya. Setan sangat senang berteman dengan orang yang tidak dapat mengendalikan nafsunya, karena orang yang demikian itu mudah untuk dibujuk kepada perbuatan yang melanggar syariat Allah, dan menentang suara Ilahiah dalam hati nuraninya.

Banyak ayat-ayat Allah yang menjelaskan bahwa setan adalah musuh nyata bagi orang mukmin. Di antaranaya adalah : “Telah ditetapkan terhadap setan itu bahwa barang siapa yang berteman dengan setan, tentu dia akan menyesatkannya dan mambawanya ke dalam azab neraka” (QS. Al Hajj : 4)


Asmaul Husna

Pepatah mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang. Proses tumbuhnya rasa cinta adalah dari perkenalan, lalu pendekatan, dan akhirnya tumbuhlan rasa cinta dan sayang. Demikian pula, agar kita dapat senantiasa mencintai Allah (dan Allah sudah pasti senantiasa mencintai dan menyayangi kita), maka kita harus mengenalNya. Bagaimana cara berkenalan dengan Allah? Bukankah Allah tidak dapat dilihat? Maka kita dapat mengenal Allah melalui segala ciptaanNya dan sifat-sifatNya. Kita yakin bahwa mengenal Allah SWT melalui sifat-sifatNya dalam Asma’ul Husna akan memperdalam rasa iman. Berzikir dan berdo’a dengan menyebut namaNya dalam Asma’ul Husna akan mendekatkan kita kepada cinta dan kasih sayang Allah. Inilah iman kepada Asma/SifatAllah.

“Dan bagi Allah nama-nama yang baik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan nama-nama yang baik itu (Asma’ul Husna)” (QS. Al-A’raaf :180)

Pepatah lain mengatakan bahwa kasih ibu sepanjang masa. Artinya kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya tak dapat diukur, tak kenal waktu dan usia. Darimanakah rasa kasih sayang itu berasal? Bukankah dalam sanubari kita juga ada rasa sayang terhadap orang tua, saudara, teman, bahkan rasa sayang pada hewan piaraan? Selain itu bukankah di lubuk hati kita juga ada rasa ingin jujur, ingin berbuat adil, ingin menolong, ingin jadi orang yang berprestasi, dan perasaan lain yang positip? Dari manakah sumber datangnya perasaan ke dalam sanubari kita?

Sesungguhnya suara hati itu bersumber dari sifat-sifat dalam Asmaul Husna. Setelah Adam diciptakan olleh Allah, seluruh malaikat bersujud. Padahal malaikat terbuat dari cahaya sedangkan Adam dari tanah. Akan tetapi iblis tidak mau bersujud karena dia terbuat dari api dan merasa lebih hebat dibanding Adam. Di sini terdapat dua sudut pandang yang berbeda : Malaikat melihat Allah meniupkan RuhNya kepada Adam. Iblis hanya melihat materi saja, padahal Allah telah memberikan bekal kepada Adam dengan sifat-sifat mulia yang tertulis di dalam hati nurani, sebagai suara hati yang bersumber dari Asmaul Husna, untuk menjadi khalifah di bumi. “Maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya Ruhku, maka hendaklah kamu bersujud kepadanya, lalu seluruh malaikat bersujud kecuali iblis, dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir” (QS. Shaad : 72-74)

Beberapa sifat mulia yang telah tertanam dalam hati nurani (sebagai suara hati-bersumber dari 99 Asma’ul Husna). Inilah jati diri kita yang sesungguhnya!

    • Kasih sayang (Ar Rahmaan - Maha pengasih) (Ar Rahiim – Maha penyayang)
    • Jujur (Al Mukmin - Maha menjaga)
    • Sabar (Ash Shobuur - Maha penyabar)
    • Kreatif (Al Khooliq - Maha pencipta)
    • Memaafkan (Al ‘Afuww – Maha pemaaf)
    • Mengampuni (Al Ghoffaar – Maha pengampun)
    • Tanggung Jawab (Al Wakiil – Maha memikul amanah)
    • Berhati lembut (Al Lathiif – Maha lembut)
    • Mencegah (Al Maani’ – Maha mencegah)
    • Melindungi (Al Waliyy – Maha melindungi)
    • Empati (As Samii’ – Maha mendengar)
    • Menolong (Al Haliim – Maha penyantun)
    • Wawasan luas (Al Wasii’- Maha luas)
    • Cerdas (Ar Rosyid – Maha cerdas)
    • Berterima kasih (As Syakuur – Maha menerima syukur)
    • Bijaksana (Al Hakim – Maha bijaksana)
    • Adil (Al ‘Adl – Maha adil)
    • Memberi manfaat (An Naafi’ – Maha memberi manfaat)
    • Teguh pendirian (Al Matiin – Maha kokoh)
    • Kebersamaan (Al Jaami’ – Maha mengumpulkan)
    • Benar (Al Haqq – Maha benar)
    • Seimbang (Al Muqsith – Maha menyeimbangkan)
    • Cermat (Al Muhshiy – Maha memperhitungkan)
    • Dermawan (Al Barr – Maha dermawan)

”Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama yang baik (Al-Asma’ul Husna)” (QS. Al-Hasyr 59:24)

”Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman; Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asma’ul Husna”. (QS. Al-Isra’ 7:110)

”Dan bagi Allah nama-nama yang baik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan nama-nama yang baik itu”. (QS. Al-A’raaf 7:180)

”Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. BagiNya nama-nama yang baik (terpuji)” (QS. Thaahaa 20:8)

”Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat....” (QS Al Baqarah 2:186)

Betapa damainya hati, betapa tentramnya jiwa, ketika menyebut Asma Allah (Asmaul Husna). Dengan program QPL, mari hafalkan 99 Asmaul Husna beserta maknanya, hanya dalam 3 x 2 jam, insyaAllah. Selanjutnya hadirkan Asmaul Husna dalam untaian dzikir, dalam lantunan doa, serta dalam bersikap dan berperilaku, sebagai wujud iman kita kepada Allah SWT.

(Bambang-Sulies. E-mail: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )

Last Updated ( Monday, 13 July 2009 03:19 )