Article Index
Serial "PMK"
Page 2
Page 3
Page 4
All Pages

Jati Diri Yang Sesungguhnya

  • Manusia sebagai hamba Allah.

Allah SWT menciptakan manusia agar menjadi hambaNy yang taat ditegaskan dalam Alqur’an surat Adz Dzoriat ayat 56 : ”Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. Tentu saja pengertian ibadah itu luas, tidak sebatas pada ibadah ritual seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Bekerja, belajar, dan aktivitas yang lain dapat bernilai ibadah jika dilakukan untuk mencari keridhoan Allah.

Ritual ibadah yang dilakukan dengan hati akan menghasilkan 5 karakter ketakwaan, yaitu :

  1. Kepekaan hati saat mendengar nama Allah (buah dari pengamalan syahadat)
  2. Kebersihan jiwa, jauh dari perbuatan keji dan munkar (buah dari pengamalan sholat)
  3. Kepekaan sosial (buah dari pengamalan zakat)
  4. Kesabaran dan ketahanan mental (buah dari pengamalan puasa)
  5. Kepedulian dan keteladanan (buah dari pengamalan haji)

Ibadah yang dilakukan tanpa mengahdirkan hatinya tidak akan membuahkan karakter ketakwaan seperti di atas. Jika ibadah hanya dilakukan sebatas ritual untuk menggugurkan kewajiban saja, maka tidak akan membekas dalam perilakunya sehingga tidak mampu memperbaiki akhlaknya.

  • Manusia sebagai khalifah di bumi.

Setelah Allah Al Kholiq menciptakan alam semesta beserta bumi yang nyaman untuk dihuni makhluk, maka selanjutnya Allah menciptakan manusia. Ketika Allah SWT berkehendak untuk meciptakan manusia pertama yaitu Nabi Adam as, terjadilah dialog antara Allah SWT dengan Malaikat, yang pada intinya bahwa Malaikat mempertanyakan kenapa Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi? Menurut pandangan Malaikat itu nantinya manusia akan berbuat kerusakan padahal mereka senantiasa bertasbih dan memuji Allah. Lalu Allah menjawab bahwa Allah Maha mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Malaikat. Dialog ini sangat tajam dikisahkan dalam Alqur’an Surat Al Baqarah: 30-37. Kisah tersebut menggambarkan betapa Allah SWT Yang Maha Kuasa telah menetapkan jati diri manusia sebagai khalifah di bumi ini. Betapa Allah SWT telah mengangkat derajat dan martabat manusia untuk mengemban misi sebagai khalifah di bumi, dengan tidak memberikan amanah itu kepada Malaikat.

Khalifah adalah pemimpin yang amanah, yang bertugas untuk memelihara bumi, memakmurkan bumi. Pengertian khalifah di sini bahwa, seseorang yang dipercaya sebagai pemimpin haruslah memegang amanah itu dengan baik karena kepemimpinannya kelak akan dimintai pertanggung jawaban di pengadilan Allah Yang Maha Agung. Sedangkan yang dimaksud pemimpin bisa saja pemimpin negara, pemimpin daerah, kantor, sekolah, dan pemimpin masyarakat yang lain, minimal pemimpin keluarga dan pemimpin bagi diri sendiri. Dengan demikian setiap manusia adalah pemimpin, dan setiap pemimpin harus mempertanggung jawabkan amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

  • Manusia sebagai pembelajar sejati.

Jati diri manusia juga diungkapkan dalam wahyu pertama yang diterima Nabi Muhamad SAW di gua hiro’ yaitu Surat Al ‘Alaq ayat 1: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Kata “bacalah” bermakna “belajarlah” dalam arti luas. Membaca berarti belajar yang bisa ditempuh dengan berbagai cara seperti membaca buku, majalah, koran, artikel journal, dan lain-lain. ”Membaca” juga bisa bermakna tidak harus membaca buku, melainkan juga membaca pikiran orang, membaca situasi, membaca perasaan orang lain, membaca fenomena alam semesta, dan lain-lain. Kalimat “dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” bermakna bahwa belajar harus menggunakan metode yang benar. Belajar juga berarti melakukan penelitian ilmiah atau riset yang harus dilakukan dengan metodologi tertentu, sehingga dapat menghasilkan sebuah penemuan hal baru, atau sebuah inovasi yang kreatif. Sebuah riset yang tidak berlandaskan pada metodologi yang kuat tidak akan membuahkan hasil dan kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Proses pembelajaran dengan metoda yang effektif akan membuahkan hasil berupa kesuksesan. Untuk itulah metoda QPL dibuat, agar proses belajar menjadi mudah dan menyenangkan, tidak lagi terasa sulit dan membosankan. Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Ilmu telah mengkaruniakan perangkat untuk belajar berupa otak dan hati dengan potensi dan kapasitas yang luar biasa.

Last Updated ( Monday, 13 July 2009 03:19 )