Article Index
Serial "PMK"
Page 2
Page 3
Page 4
All Pages


Bekal mental untuk menjalankan misi sebagai khalifah di bumi.

Allah SWT menugaskan manusia sebagai khalifah di bumi tentu saja memberi bekal yang memadai agar misinya tercapai. Bekal yang diberikan kepada kita sangat lengkap meliputi hardware dan software. Layaknya sebuah komputer, hardware kita meliputi tubuh kita yang dikendalikan oleh otak dan panca indera. Sedangkan software kita meliputi mental dan karakter yang dikendalikan oleh jiwa, pikiran dan perasaan (hati).

Mental merupakan kondisi kejiwaan seseorang yang mencerminkan suasana hati dan pikirannya kemudian terlahir dalam perilakunya. Menurut dr. Maisarah, dokter ahli jiwa dalam bukunya ”Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim”, struktur jiwa manusia dibagi ke dalam tiga bagian yaitu akal (kalbu), hati nurani dan nafsu.

Akal adalah bagian dari jiwa yang merupakan alat untuk mengetahui ilmu yang berasal dari pengamatan indera manusia, dan salah satu fungsi akal yang utama adalah untuk berpikir. Ayat-ayat dalam Al Qur’an menjelaskan bahwa fungsi akal yang dikehendaki Allah Yang Maha Ilmu adalah untuk menangkap informasi dari alam semesta, mengamati fenomena alam nyata, lalu mengolahnya dan melakukan analisis hingga sampai pada keyakinan akan kebesaran Allah dengan segala ketentuan (sunnah)Nya. Misalnya keyakinan akan perputaran bumi, bulan dan matahari untuk perhitungan waktu, keyakinan akan terjadinya hujan karena terlihatnya awan, dan sebagainya. Salah satu ayat yang menjelaskan tentang akal adalah : “ …sungguh terdapat keEsaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang berakal” (QS. Al Baqarah : 164).

Sedangkan kalbu lebih cenderung menangkap informasi dari alam ghaib melalui pendengaran dan penglihatan di alam ruhani, yang berfungsi untuk melihat dan mendengar ayat-ayat Allah. Selanjutnya mengolah informasi yang didapat hingga akhirnya sampai pada keyakinan akan segala ketentuan Allah dalam tataran ruhani, misalnya keyakinan adanya Allah, malaikat, surga dan neraka, dan lain-lain. Bagi orang mukmin Allah memperluas kalbunya untuk menampung takwa sebagaimana Firman Allah SWT : “ …mereka itulah yang diperluas kalbunya untuk menampung takwa” (QS. Al Hujuraat : 3). Selanjutnya manusia mengamalkan keyakinan yang diperoleh dari akal dan kalbu untuk mengemban amanah sebagai wakil Allah di bumi. Akal dan kalbu sangat besar peranannya dalam pengambilan keputusan sebelum seseorang berperilaku dan bertindak, oleh karena itu kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Hati nurani adalah bagian dari jiwa yang berisi suara hati yang bersumber dari Ruh Ilahi. Para ulama menetapkan hati nurani (Ruh Ilahi) sebagai refleksi kehadiran Ilahi dalam manusia, yang setiap saat memberikan pertimbangan, menilai dan menghukum kerja akal, kalbu dan nafsu sesuai dengan tuntunan Ilahi. Nilai-nilai dalam hati nurani menurut para ulama diyakini sebagai suara hati yang mendorong sifat-sifat mulia yang mengacu pada sifat-sifat Allah yang dikenal dengan Asmaul Husna. Salah satu ayat tentang tiupan Ruh Ilahiah adalah “ Kemudian Ia memberinya bentuk (dengan perbandingan dan ukuran yang baik), dan meniupkan ke dalamnya Ruh (ciptaan)Nya. Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan (perasaan) hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur” (QS. As Sajdah : 9)

Suara hati di dalam jiwa manusia bersifat universal, karena seluruh manusia diciptakan oleh pencipta yang sama, Allah Yang Maha Esa, Al Khalik. Siapapun manusia itu, apakah dia muslim atau bukan, orang barat atau orang timur, berkulit putih atau hitam, di belahan manapun di bumi ini, semuanya setuju pada nilai-nilai yang selaras dengan suara hati seperti kasih sayang, kejujuran, kebenaran, kebijaksanaan, kemuliaan, kadilan, kesejahteraan, tanggung jawab, kreatifitas, dan lain-lain. Dengan Ruh itulah Allah berkehendak agar manusia menggunakan suara hatinya yang berisi sifat-sifat mulia untuk menjalankan misi sebagai wakil Allah di bumi.

Nafsu adalah bagian dari jiwa yang berisi tuntutan kebutuhan yang bertujuan untuk mencegah manusia dari penderitaan dan memperoleh kesenangan. Agar seseorang dapat mendengar suara hatinya dengan baik maka ia harus dapat mengendalikan nafsunya, sehingga tuntutan kebutuhannya tidak berlebihan karena sesungguhnya Allah tidak menyukai hal yang berlebih-lebihan. Nabi Yusuf adalah teladan dalam mengendalikan nafsunya seperti dikisahkan dalam Al Qur’an : “Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah” (QS. Yusuf : 53)

Nafsu yang tidak terkendali adalah seperti nafsu makan yang menuntut berlebihan dalam jumlah maupun kualitasnya, begitu pula nafsu seksual yang tidak pada tempatnya (tidak halal), nafsu berlebihan dalam berpakaian mahal untuk gengsi diri, nafsu berlebihan mencari kehormatan, kekayaan, dan sebagainya. Nafsu yang tidak terkendali akan dilaknat Allah karena mendorong kepada kejahatan, menutup hati nurani dan membuka peluang bagi setan untuk membujuk pada perbuatan sesat. Misalnya nafsu ingin segera kaya dapat menyebabkan perbuatan korupsi, nafsu ingin segera naik jabatan menyebabkan perbuatan syirik karena pergi ke dukun, tukang santet, dan paranormal, dan sebagainya. Setan sangat senang berteman dengan orang yang tidak dapat mengendalikan nafsunya, karena orang yang demikian itu mudah untuk dibujuk kepada perbuatan yang melanggar syariat Allah, dan menentang suara Ilahiah dalam hati nuraninya.

Banyak ayat-ayat Allah yang menjelaskan bahwa setan adalah musuh nyata bagi orang mukmin. Di antaranaya adalah : “Telah ditetapkan terhadap setan itu bahwa barang siapa yang berteman dengan setan, tentu dia akan menyesatkannya dan mambawanya ke dalam azab neraka” (QS. Al Hajj : 4)

Last Updated ( Monday, 13 July 2009 03:19 )