Article Index
Serial "Hati dalam Haji"
Page 2
Page 3
Page 4
All Pages

KETUNDUKAN TOTAL DI MINA

Oleh : Bambang-Sulies


Dini hari 10 Dzulhijjah matahari tersenyum di ufuk timur dengan sinar kuning keemasan menyapu malam. Di padang Masy’ar ini kita telah mabit semalam, beratapkan langit dengan bintang-bintang nan indah bertaburan. Tenggelam di tengah lautan manusia, kemanapun mata memandang yang terlihat hanyalah lautan manusia dengan ihram putihnya.

Sungguh pemandangan yang menakjubkan, padang Masy’ar yang luas ini bagaikan diselimuti salju, serba putih dan putih. Angin malam yang sejuk, kadang terasa dingin, menerpa wajah-wajah hamba Allah yang pasrah. Angin sepoi itu seakan berbisik, “bersiap-siaplah untuk hari esok”. Ya, hari esok adalah Tanggal 10 Dzulhijjah, hari pengorbanan Ismail dan hari peperangan melawan setan di Mina.

Kita segera beranjak meninggalkan padang Masy’ar, setelah semalaman melakukan persiapan, mengumpulkan senjata berupa batu kerikil, menguatkan keyakinan dan berkomunikasi dengan Allah dalam perenungan-perenungan. Jika semalaman kita adalah hamba-hamba Allah yang membasahi bumi Muzdalifah dengan air mata cinta, maka pagi ini kita adalah pasukan Tauhid yang gagah perkasa. Lautan manusia yang semalam menutupi hamparan padang Masy’ar itu, dalam sekejap kini berubah menjadi sungai besar yang mengalir menuju Mina. Dengan cinta yang tulus, dengan ketundukan total kepada Allah, dengan keberanian yang meledak-ledak, dengan semangat yang berkobar-kobar, pasukan Tauhid ini bergerak menuju Mina hendak menghancurkan berhala-berhala di sana.

Ketundukan total dan cinta mutlak kepada Allah kian berkobar di dalam dada, manakala dalam perjalanan itu kita mengenang kembali jejak Nabi Ibrahim dan keluarganya. Selama 12 Tahun Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di kota Mekkah untuk melaksanakan perintah Allah SWT, berdakwah menyerukan Tauhid. Ketika Allah memerintahkannya kembali ke Mekkah, dilihatnya putranya telah menjadi anak remaja yang tampan, berhati lembut dan soleh. Betapa bahagaia Nabi Ibrahim bersama keluarga, hari itu mereka berkumpul kembali setelah sekian lama berpisah. Mereka saling melepas rindu, bayangkan bagaimana perasaan kita ketika melepas rindu bersama keluarga kita, tentu sebuah kebahagiaan yang tiada terkira.

Namun baru beberapa hari Nabi Ibrahim menikmati indahnya kebersamaan keluarga, pada suatu malam beliau bermimpi mendapat perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Nabi yang berhati lembut itu tersentak dan menangis, sambil berbicara lirih hingga hanya terdengar oleh dirinya sendiri “Bagaimana mungkin aku menyembelih anakku. Ya Allah, betulkah ini perintahMu? Kalau memang betul, maka berikanlah mimpi yang serupa untuk mengulangi perintah itu ya Allah”. Kemudian esok malamnya ketika ia tidur, mimpi itu kembali datang, dengan perintah yang sama untuk menyembelih anaknya. Setelah tiga kali mendapatkan mimpi yang sama, yakinlah Nabi Ibrahim bahwa itu adalah perintah Allah Rabbul Alamin. Lalu dipanggilnya anaknya, Ismail. Ditatapnya Ismail yang berdiri tegap di hadapannya. Wajahnya yang tampan dan lembut, akhlaknya menunjukkan anak yang soleh. Ismail bukan hanya putranya, tetapi Ismail adalah buah hati yang ia dambakansepanjang hidupnya. Tentu saja Ibrahim mencurahkan kasih sayang dan cintanya kepada anak sematawayangnya saat itu. Ismail telah menjadi sumber kebahagiaan dan tumpuan harapan bagi Ibrahim.



Betapa goncang jiwa Ibrahim menerima perintah Allah untuk mengorbankan putra tercintanya itu. Ibrahim adalah seorang Nabi pemberani, yang menyerukan Tauhid, yang berhati teguh, memberontak penguasa Raja Namrud, menghancurkan berhala-berhala hingga dijatuhi hukuman, dibakar hidup-hidup. Namun kini ibrahim berdiri dengan gemetar, dengan kaki goyah seakan hendak pingsan. Tak kuasa matanya menatap Ismail tercinta yang berdiri tegap di hadapannya. Lidahnya kelu tak mampu berkata-kata. Perang besar sedang terjadi di dalam hatinya, konflik yang membingungkan sedang terjadi di dalam jiwanya. Siapakah yang lebih disayanginya: Allah atau Ismail? Allah atau Ismail? Allah atau Ismail? Jantung Ibrahim berdegup kencang dengan irama tak beraturan, napasnya tersengal di antara dua pilihan: tunduk kepada Allah berarti mengorbankan Ismail, atau tetap mempertahankan Ismail tercintanya berarti membangkang pada perintah Allah. Pilihan itu begitu berat, tetapi itulah wahyu, perintah Allah Azza wajalla. Dan Ibrahim harus memilih salah satunya.

Setelah Ibrahim berhasil mengumpulkan segenap daya dan tenaga, akhirnya ia berbicara pada Ismail yang telah lama berdiri di depannya. “...... Ibrahim berkata:’ Wahai anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash Shaaffaat : 102). Sungguh ia tak menyangka ketika Ismail menjawab “Wahai ayahku, kalau itu memang perintah dari Allah maka laksanakanlah, insyaAllah, ayah akan mendapati aku termasuk orang yang sabar” (QS. Ash Shaaffaat : 102). Dilihatnya Ismail begitu tegar dan pasrah, wajahnya tenang tak menyiratkan keraguan sedikitpun. Melihat kesolehan anaknya itu, Ibrahim semakin bertambah sayang dan semakin perihlah hatinya. Nabi Ibrahim yang telah mengabdikan seluruh hidupnya sebagai pemimpin dalam memerangi penyembah-penyembah berhala, kini mendapat ujian yang demikian beratnya. Nabi yang berani dan tegar, tak pernah putus asa dalam setiap peperangan, kini tertunduk lesu dalam dua pilihan antara Ismail dan Tuhan Semesta alam.

Jawaban Ismail sungguh tak disangka-sangka, jawaban itu menunjukkan tingkat kesolehan dan keikhlasan yang luar biasa. Demikian pula ketika menemui Hajar untuk minta pendapat tentang wahyu itu, maka sang ibu itupun ikhlas demi cintanya kepada Allah. Setan yang terkutuk tidak rela melihat kesolehan dan keikhlasan keluarga Ibrahim. Setan akan merasa kalah jika melihat orang-orang mu’min tunduk kepada Allah, oleh karena itu setan akan terus berusaha menghalanginya. Ketika Ibrahim bersama Hajar dan Ismail hendak menuju tempat penyembelihan di Mina, setan menggoda Ibrahim agar mengurungkan niatnya menyembelih Ismail. Kemudian Ibrahim melempari setan yang menampakkan diri itu dengan batu. Namun setan tidak begitu saja menyerah, dia datang lagi membisikkan kata-kata yang dipikirnya dapat meruntuhkan keyakinan Ibrahim terhadap wahyu Ilahi. Kemudian Ibrahim melemparinya kembali dengan batu. Setan belum juga putus asa, dengan gigih dia menggoda Ibrahim untuk yang ketiga kalinya, namun Ibrahim tetap yakin dengan pendiriannya dan kembali melempari setan dengan batu.

Sungguh berat ujian Nabi Ibrahim kali ini, Allah dengan perintahnya berada di sebelah kanannya dan setan dengan bujuk rayunya berada di sebelah kirinya. Nabi Ibrahim yang telah berhasil membangun keluarga sakinah, dengan istri yang solehah dan anak yang soleh, kini berada di persimpangan, antara Allah dan setan, antara cintanya kepada Allah dan cintanya kepada Ismail. Bayangkan betapa agung dan mulia Hajar dan Ismail, ibu dan anak itu terus mendorong agar Ibrahim segera melaksanakan perintah Allah, agar tidak lagi digoda oleh setan. “Wahai ayah, segera laksanakanlah perintah Allah, jangan biarkan iblis menggagalkanmu”. Betapa Ibrahim terperanjat mendengar keberanian dan keikhlasan anaknya. Bahkan anaknya yang semata wayang itu membantu ayahnya dalam mempersiapkan tempat untuk penyembelihannya. Anak remaja itu meminta sang ayah untuk membuka bajunya, agar tidak ternoda oleh darah yang akan membuat ibunya sedih jika melihatnya. Sungguh ini adalah sebuah pemandangan yang mengharu biru perasaan, sebuah keluarga yang tengah berjuang untuk bekerja sama dalam ketaatan.

Akhirnya sampailah mereka, ayah dan anak itu pada sebuah kepasrahan yang luar biasa kepada Allah Azza Wazalla, melalui proses penyembelihan sebagai wujud pengorbanan untuk Tuhan yang mereka cintai. Sebagaimana dikisahkan dalam Alqur’an

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia “Hai Ibrahim, sebenarnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman” (QS. Ash Shaaffaat : 103-111)



Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail as, maka Allah SWT melarang Ibrahim menyembelih Ismail. Sebagai pengganti korban, Allah mengganti Ismail yang telah berbaring dengan badan gemetar itu, dengan seekor sembelihan yang besar berupa kambing (domba). Persitiwa ini menjadi dasar disyari’atkannya pelaksanaan korban pada Tanggal 10 Dzulhijjah, yang kita sebut sebagai Hari Raya Korban atau Hari Raya Haji. Itulah kemenangan Nabi Ibrahim beserta keluarganya dalam melawan godaan setan demi mewujudkan cinta dan ketundukan hanya kepada Allah Tuhan Semesta Alam. Dan kemenangan itu juga harus kita raih hari ini, di medan pertempuran Mina ini, demi meraih cinta Allah dan ridhaNya.

Kini kaki kita telah menginjak tanah Mina, irama jantung berdegup kencang hendak segera menyerang. Matahari yang mulai menebarkan sinarnya, seolah-olah memberi aba-aba akan segera dimulainya penyerbuan. Dentuman kaki para pejuang Tauhid terdengar menggetarkan bumi, barisan mereka bagaikan sungai yang terus mengalir tiada putus-putusnya. Gema zikir yang tiada henti, Tasbih, Tahmid, dan Tahlil menggaung di sepanjang jalan, di tempat melontar jumrah, dan di kemah-kemah di lembah maupun di bukit Mina. Ketika kita berparade menuju Jamarot, dengan kantung batu di tangan, dengan derap kaki yang mantab, dengan hati yang yakin, dan dengan zikir yang tiada henti, sesungguhnya setan justru sakit hati. Bukankah setan akan tersiksa jika melihat orang-orang mu’min tunduk kepada Allah? Bukankah setan tak berdaya melihat persatuan umat sedunia ini bersatu padu untuk menggempurnya? Bukankah setan ciut hatinya melihat keteguhan dan keyakinan umat sedunia yang hari ini bersatu padu melawannya, memeranginya, dan mencampakkannya? Meskipun setan-setan itu tidak menampakkan diri sebagaimana ketika Nabi Ibrahim melempari mereka dengan batu, namun pelemparan batu kali ini adalah simbol perlawanan yang nyata melawan setan.

Inilah medan pertempuran yang sesungguhnya. Karena setan atau iblis adalah musuh bebuyutan bagi orang-orang mu’min, musuh yang abadi hingga hari kiamat tiba. Tanggal 10 Dzulhijjah, kita melempar Jumrah Aqabah, symbol perlawanan terhadap setan besar atau iblis yang pertama kali berani menggoda Nabi Ibrahim. Kita harus menembaknya dengan tujuh butir peluru, melemparinya dengan tujuh butir batu hingga mengenai tugu setan itu sebanyak tujuh kali. Tak berhenti sampai di sini, esok hari 11 Dzulhijjah kita harus kembali lagi untuk menyerbu tiga buah tugu iblis yang lain: jumrah Ula, Wushta dan Aqabah. Agar setan-setan itu dapat kita tumpas habis maka kita harus mengulangi penyerangan lagi Tanggal 12 (untuk Nafar awal) bahkan hingga Tanggal 13 Dzulhijjah (untuk Nafar akhir).

Melontar jumrah, selain wujud ketundukan total kepada Allah dengan mengikuti perintah sesuai manasik haji, juga mengandung makna batin yang harus dipahamai, dijiwai. Pikiran dan hati yang sejak lahir sebetulnya dalam keadaan fitrah, seringkali tertutup oleh belenggu dan paradigma yang mempengaruhi cara kita memandang dan berperilaku. Akibatnya sifat-sifat mulia yang berasal dari tiupan Ruh yang bersumber dari Asmaul Husna menjadi terbelenggu, tidak keluar. Yang keluar dan menjadi tindakan nyata justru sifat-sifat tercela yang berasal dari godaan setan.

Menurut C.Bihar Anwar dalam bukunya “ASQ For Haji” , ketujuh belenggu itu adalah kecongkakan, kesombongan, iri hati, ketamakan, kekikiran, kemarahan, dan hasrat seksual yang berlebihan. Maka ketujuh belenggu inipun harus dicampakkan dari dalam hati ketika melontar jumrah. Dengan mencampakkan sifat-sifat tercela itu maka hati tak lagi terbelenggu, menjadi terbuka dan bercahaya, sehingga kita dapat mendengar suara hati dengan jelas dan berpikir merdeka.

Sifat-sifat tercela yang membelenggu suara hati yang telah dijelaskan di atas tak lain adalah perbuatan setan yang menggerogoti hati manusia., seperti ketika Nabi Ibrahim dan Ismail selalu digoda untuk membatalkan niat mereka dalam melaksanakan perintah Allah. Pada Hari pertama pelontaran, kita melakukan lontar jumrah Aqobah, yang berarti besar atau Qubra, melambangkan perlawanan setan besar yang menggoda Nabi Ibrahim agar membatalkan perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Selanjutnya selama 3 hari tasyrik kita melontar jumrah di 3 tempat berturut-turut yaitu jumrah Ula, jumrah Wustha, dan jumrah Aqabah. Menurut C.Bihar Anwar dalam bukunya “ASQ For Haji”, angka 3 ini melambangkan 3 aspek Tauhid, yaitu Tauhid perbuatan, Tauhid sifat dan Tauhid dzat. Bahwa segala perbuatan dan kegiatan kita adalah semata-mata untuk mencari Ridla Allah, bahwa sifat-sifat kita harus mencerminkan suara hati yang merupakan amanah Allah melalui tiupan Ruh Ilahi yang bersumber dari Asmaul Husna, dan bahwa tiada yang kekal selain dzat Allah.

Melontar jumrah harus mengenai tembok yang berdiri di tengah sumur, hal ini menuntut perjuangan yang gigih dan kesabaran. Inilah pesan Allah bahwa jamaah haji harus gigih melawan hawa nafsu, harus benar-benar menjadi hamba Allah dan jangan lagi mau diperbudak oleh nafsu. Menurut ahli kejiwaan Maisarah dalam bukunya “Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim”, nafsu adalah dorongan untuk memenuhi kebutuhan seseorang sehingga mencapai kepuasan dengan segera dan berlebihan. Nafsu cenderung menyuruh kepada perbuatan tercela, dan nafsu yang bersarang di dalam hati manusia dikendalikan oleh setan/iblis. Dekatnya setan dengan manusia dinyatakan oleh Rasulullah bahwa setan itu masuk ke dalam aliran darah manusia (Hadis Nabi). Oleh karena itu di dalam melontar jumrah harus memaksimalkan kecerdasan ASQ, yaitu kegigihan fitriah untuk melawan hawa nafsu, untuk mencampakkan setan dalam hati, melemparkan batu kerikil dengan semangat perlawanan untuk mematikan symbol keberadaan setan. Disinilah kita harus ingat akan ikrar iblis :

“Iblis mengatakan : Tuhanku, karena Engkau telah menilaiku sesat, niscaya akan kuhiasi kehidupan manusia di dunia dan akan kusesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambaMu di antara mereka yang ikhlas hidup mentaati petunjuk-petunjukMu” (QS. Al Hijr : 39-40)



Menurut Imam Al Ghazali, pintu-pintu masuk setan ke dalam jiwa manusia di antaranya adalah :

1. Marah dan syahwat. Marah merupakan racun bagi akal, dan syahwat yang tidak terkendali sesuai syariat, merupakan pintu masuk yang sangat mudah bagi setan untuk menjerumuskannya kepada perbuatan maksiat.

2. Dengki dan tamak (serakah) terhadap segala sesuatu. Sifat ini dapat membuat orang menjadi buta hati dan tuli hati. Rasulullah SAW bersabda :”Cintamu terhadap sesuatu membuatmu buta dan tuli” (HR. Tirmidzi)

Jika hati seseorang telah diliputi rasa dengki dan tamak terhadap sesuatu, maka ia tidak akan dapat melihat dan mendengar kebenaran. Saat itulah setan masuk dan memberikan kesan baik terhadap orang yang sedang melampiaskan hawa nafsunya meskipun itu dilakukan secara keji dan munkar.

3. Kenyang yang berlebihan meskipun dengan makanan yang halal. Rasa kenyang yang berlebihan dapat memperkuat syahwat, sedangkan syahwat adalah senjata setan yang ampuh untuk melemahkan iman.

4. Berlebihan dalam berhias dengan perabotan, rumah dan pakaian. Perhiasan ini sangat didambakannya, sehingga sepanjang hidupnya terbenam ke dalam hal tersebut, selalu mengikuti hawa nafsu agar dipuji orang lain. Setan sangat senang masuk ke dalam jiwa orang yang sedang bangga oleh pujian orang lain, sehingga kebanggan itu dapat menyeretnya kepada kefasikan.

5. Tamak kepada manusia, menimbulkan rasa senang untuk mencari muka dan berbuat riya’, memuja seseorang secara berlebihan untuk mendapatkan perhatiannya, selalu berbuat dengan pamrih tertentu.

6. Terburu-buru dan tidak mengkonfirmasi persoalan, hal ini menghalangi kematangan berpikir secara bijaksana sehingga tanpa disadari setan memasukkan rencana kejahatan ke dalam jiwanya.

7. Segala macam harta kekayaan yang menyilaukan, dapat menyebabkan sesorang tidak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya, sehingga terjerumus ke dalam perburuan harta yang tak ada habisnya. Setan sangat mudah masuk ke dalam jiwanya sehingga seluruh hidupnya, waktu, pikiran dan tenaganya terkuras untuk menumpuk harta. Dan hidupnya akan lebih terpuruk lagi jika uang dan hartanya itu menimbulkan bangga diri, ujub dan sombong.

8. Bakhil dan takut miskin, merupakan senjata yang ampuh bagi setan untuk memasuki jiwa manusia. Takut miskin membuat orang menjadi bakhil, enggan untuk bersedekah, tidak membayar zakat, dan suka menumpuk harta yang dikiranya dapat menyelamatkan masa depannya.

9. Fanatik terhadap madzhab tertentu dan hawa nafsu, mendengki lawan dan melecehkannya. Hal ini merupakan pintu besar masuknya setan, bahkan dapat menghancurkan para ulama yang karena kefanatikannya dapat mengundang permusuhan di kalangan sesama muslim. Orang yang dengki selalu sibuk mencela dan mencari kesalahan orang lain, mencaci orang lain yang tidak sepaham dan merasa menang sendiri. Inilah lahan yang disukai setan untuk menciptakan permusuhan bahkan peperangan antara sesama muslim.

10. Mengajak orang awam untuk berpikir tentang Dzat Allah. Orang awam dengan pengetahuan yang sangat terbatas dapat terjerumus pada keraguannya tentang agama jika dia diajak berpikir tentang Dzat Allah. Bahkan dapat terjerumus kepada kekafiran atau bid’ah, hal inilah yang merupakan senjata perlawanan setan untuk mengajak manusia ke jalan yang sesat.

11. Buruk sangka kepada kaum muslimin, adalah pintu masuk setan untuk berkembang menjadi tuduhan dan fitnah. Akibatnya sangat merugikan orang lain, mengundang permusuhan dan bagi orang yang berprasangka berarti menzolimi dirinya sendiri.

Itulah sebagian pintu masuk setan ke dalam jiwa manusia, dan masih banyak lagi pintu-pintu lain yang sering kali tidak kita sadari. Melontar jumrah dalam ritual ibadah haji mengandung makna batin untuk melakukan perlawanan terhadap setan. Oleh karena itu pintu-pintu masuk setan ini perlu diketahui, jika kita tidak tahu pintu masuknya maka bagaimana kita akan menyerangnya?

Dengan pengetahuan ini semoga kita dapat mengendalikan diri agar terhindar dari sifat-sifat tercela yang merupakan pintu masuk setan, sehingga setan yang terkutuk itu dapat dicampakkan dari dalam hati jika ia telah terlanjur bertengger di sana. Kita harus selalu waspada betapa setan itu sangat dekat dengan kehidupan kita sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya setan mengalir pada peredaran darah tubuh anak Adam” (HR: Bukhari dan Muslim)

“Dan katakanlah : ‘ Ya Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari bisikan jahat setan-setan. Dan aku berlindung kepadaMu, ya Tuhanku, supaya jangan mereka mendekati aku” (QS. Al Mu’minuun : 97-98)

Wallahualam Bishawab.

(Bambang-Sulies. E-mail: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Last Updated ( Thursday, 09 July 2009 05:14 )