Article Index
Serial "Hati dalam Haji"
Page 2
Page 3
Page 4
All Pages


Betapa goncang jiwa Ibrahim menerima perintah Allah untuk mengorbankan putra tercintanya itu. Ibrahim adalah seorang Nabi pemberani, yang menyerukan Tauhid, yang berhati teguh, memberontak penguasa Raja Namrud, menghancurkan berhala-berhala hingga dijatuhi hukuman, dibakar hidup-hidup. Namun kini ibrahim berdiri dengan gemetar, dengan kaki goyah seakan hendak pingsan. Tak kuasa matanya menatap Ismail tercinta yang berdiri tegap di hadapannya. Lidahnya kelu tak mampu berkata-kata. Perang besar sedang terjadi di dalam hatinya, konflik yang membingungkan sedang terjadi di dalam jiwanya. Siapakah yang lebih disayanginya: Allah atau Ismail? Allah atau Ismail? Allah atau Ismail? Jantung Ibrahim berdegup kencang dengan irama tak beraturan, napasnya tersengal di antara dua pilihan: tunduk kepada Allah berarti mengorbankan Ismail, atau tetap mempertahankan Ismail tercintanya berarti membangkang pada perintah Allah. Pilihan itu begitu berat, tetapi itulah wahyu, perintah Allah Azza wajalla. Dan Ibrahim harus memilih salah satunya.

Setelah Ibrahim berhasil mengumpulkan segenap daya dan tenaga, akhirnya ia berbicara pada Ismail yang telah lama berdiri di depannya. “...... Ibrahim berkata:’ Wahai anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash Shaaffaat : 102). Sungguh ia tak menyangka ketika Ismail menjawab “Wahai ayahku, kalau itu memang perintah dari Allah maka laksanakanlah, insyaAllah, ayah akan mendapati aku termasuk orang yang sabar” (QS. Ash Shaaffaat : 102). Dilihatnya Ismail begitu tegar dan pasrah, wajahnya tenang tak menyiratkan keraguan sedikitpun. Melihat kesolehan anaknya itu, Ibrahim semakin bertambah sayang dan semakin perihlah hatinya. Nabi Ibrahim yang telah mengabdikan seluruh hidupnya sebagai pemimpin dalam memerangi penyembah-penyembah berhala, kini mendapat ujian yang demikian beratnya. Nabi yang berani dan tegar, tak pernah putus asa dalam setiap peperangan, kini tertunduk lesu dalam dua pilihan antara Ismail dan Tuhan Semesta alam.

Jawaban Ismail sungguh tak disangka-sangka, jawaban itu menunjukkan tingkat kesolehan dan keikhlasan yang luar biasa. Demikian pula ketika menemui Hajar untuk minta pendapat tentang wahyu itu, maka sang ibu itupun ikhlas demi cintanya kepada Allah. Setan yang terkutuk tidak rela melihat kesolehan dan keikhlasan keluarga Ibrahim. Setan akan merasa kalah jika melihat orang-orang mu’min tunduk kepada Allah, oleh karena itu setan akan terus berusaha menghalanginya. Ketika Ibrahim bersama Hajar dan Ismail hendak menuju tempat penyembelihan di Mina, setan menggoda Ibrahim agar mengurungkan niatnya menyembelih Ismail. Kemudian Ibrahim melempari setan yang menampakkan diri itu dengan batu. Namun setan tidak begitu saja menyerah, dia datang lagi membisikkan kata-kata yang dipikirnya dapat meruntuhkan keyakinan Ibrahim terhadap wahyu Ilahi. Kemudian Ibrahim melemparinya kembali dengan batu. Setan belum juga putus asa, dengan gigih dia menggoda Ibrahim untuk yang ketiga kalinya, namun Ibrahim tetap yakin dengan pendiriannya dan kembali melempari setan dengan batu.

Sungguh berat ujian Nabi Ibrahim kali ini, Allah dengan perintahnya berada di sebelah kanannya dan setan dengan bujuk rayunya berada di sebelah kirinya. Nabi Ibrahim yang telah berhasil membangun keluarga sakinah, dengan istri yang solehah dan anak yang soleh, kini berada di persimpangan, antara Allah dan setan, antara cintanya kepada Allah dan cintanya kepada Ismail. Bayangkan betapa agung dan mulia Hajar dan Ismail, ibu dan anak itu terus mendorong agar Ibrahim segera melaksanakan perintah Allah, agar tidak lagi digoda oleh setan. “Wahai ayah, segera laksanakanlah perintah Allah, jangan biarkan iblis menggagalkanmu”. Betapa Ibrahim terperanjat mendengar keberanian dan keikhlasan anaknya. Bahkan anaknya yang semata wayang itu membantu ayahnya dalam mempersiapkan tempat untuk penyembelihannya. Anak remaja itu meminta sang ayah untuk membuka bajunya, agar tidak ternoda oleh darah yang akan membuat ibunya sedih jika melihatnya. Sungguh ini adalah sebuah pemandangan yang mengharu biru perasaan, sebuah keluarga yang tengah berjuang untuk bekerja sama dalam ketaatan.

Akhirnya sampailah mereka, ayah dan anak itu pada sebuah kepasrahan yang luar biasa kepada Allah Azza Wazalla, melalui proses penyembelihan sebagai wujud pengorbanan untuk Tuhan yang mereka cintai. Sebagaimana dikisahkan dalam Alqur’an

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia “Hai Ibrahim, sebenarnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman” (QS. Ash Shaaffaat : 103-111)



Last Updated ( Thursday, 09 July 2009 05:14 )