Article Index
Serial "Hati dalam Haji"
Page 2
Page 3
Page 4
All Pages


Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail as, maka Allah SWT melarang Ibrahim menyembelih Ismail. Sebagai pengganti korban, Allah mengganti Ismail yang telah berbaring dengan badan gemetar itu, dengan seekor sembelihan yang besar berupa kambing (domba). Persitiwa ini menjadi dasar disyari’atkannya pelaksanaan korban pada Tanggal 10 Dzulhijjah, yang kita sebut sebagai Hari Raya Korban atau Hari Raya Haji. Itulah kemenangan Nabi Ibrahim beserta keluarganya dalam melawan godaan setan demi mewujudkan cinta dan ketundukan hanya kepada Allah Tuhan Semesta Alam. Dan kemenangan itu juga harus kita raih hari ini, di medan pertempuran Mina ini, demi meraih cinta Allah dan ridhaNya.

Kini kaki kita telah menginjak tanah Mina, irama jantung berdegup kencang hendak segera menyerang. Matahari yang mulai menebarkan sinarnya, seolah-olah memberi aba-aba akan segera dimulainya penyerbuan. Dentuman kaki para pejuang Tauhid terdengar menggetarkan bumi, barisan mereka bagaikan sungai yang terus mengalir tiada putus-putusnya. Gema zikir yang tiada henti, Tasbih, Tahmid, dan Tahlil menggaung di sepanjang jalan, di tempat melontar jumrah, dan di kemah-kemah di lembah maupun di bukit Mina. Ketika kita berparade menuju Jamarot, dengan kantung batu di tangan, dengan derap kaki yang mantab, dengan hati yang yakin, dan dengan zikir yang tiada henti, sesungguhnya setan justru sakit hati. Bukankah setan akan tersiksa jika melihat orang-orang mu’min tunduk kepada Allah? Bukankah setan tak berdaya melihat persatuan umat sedunia ini bersatu padu untuk menggempurnya? Bukankah setan ciut hatinya melihat keteguhan dan keyakinan umat sedunia yang hari ini bersatu padu melawannya, memeranginya, dan mencampakkannya? Meskipun setan-setan itu tidak menampakkan diri sebagaimana ketika Nabi Ibrahim melempari mereka dengan batu, namun pelemparan batu kali ini adalah simbol perlawanan yang nyata melawan setan.

Inilah medan pertempuran yang sesungguhnya. Karena setan atau iblis adalah musuh bebuyutan bagi orang-orang mu’min, musuh yang abadi hingga hari kiamat tiba. Tanggal 10 Dzulhijjah, kita melempar Jumrah Aqabah, symbol perlawanan terhadap setan besar atau iblis yang pertama kali berani menggoda Nabi Ibrahim. Kita harus menembaknya dengan tujuh butir peluru, melemparinya dengan tujuh butir batu hingga mengenai tugu setan itu sebanyak tujuh kali. Tak berhenti sampai di sini, esok hari 11 Dzulhijjah kita harus kembali lagi untuk menyerbu tiga buah tugu iblis yang lain: jumrah Ula, Wushta dan Aqabah. Agar setan-setan itu dapat kita tumpas habis maka kita harus mengulangi penyerangan lagi Tanggal 12 (untuk Nafar awal) bahkan hingga Tanggal 13 Dzulhijjah (untuk Nafar akhir).

Melontar jumrah, selain wujud ketundukan total kepada Allah dengan mengikuti perintah sesuai manasik haji, juga mengandung makna batin yang harus dipahamai, dijiwai. Pikiran dan hati yang sejak lahir sebetulnya dalam keadaan fitrah, seringkali tertutup oleh belenggu dan paradigma yang mempengaruhi cara kita memandang dan berperilaku. Akibatnya sifat-sifat mulia yang berasal dari tiupan Ruh yang bersumber dari Asmaul Husna menjadi terbelenggu, tidak keluar. Yang keluar dan menjadi tindakan nyata justru sifat-sifat tercela yang berasal dari godaan setan.

Menurut C.Bihar Anwar dalam bukunya “ASQ For Haji” , ketujuh belenggu itu adalah kecongkakan, kesombongan, iri hati, ketamakan, kekikiran, kemarahan, dan hasrat seksual yang berlebihan. Maka ketujuh belenggu inipun harus dicampakkan dari dalam hati ketika melontar jumrah. Dengan mencampakkan sifat-sifat tercela itu maka hati tak lagi terbelenggu, menjadi terbuka dan bercahaya, sehingga kita dapat mendengar suara hati dengan jelas dan berpikir merdeka.

Sifat-sifat tercela yang membelenggu suara hati yang telah dijelaskan di atas tak lain adalah perbuatan setan yang menggerogoti hati manusia., seperti ketika Nabi Ibrahim dan Ismail selalu digoda untuk membatalkan niat mereka dalam melaksanakan perintah Allah. Pada Hari pertama pelontaran, kita melakukan lontar jumrah Aqobah, yang berarti besar atau Qubra, melambangkan perlawanan setan besar yang menggoda Nabi Ibrahim agar membatalkan perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Selanjutnya selama 3 hari tasyrik kita melontar jumrah di 3 tempat berturut-turut yaitu jumrah Ula, jumrah Wustha, dan jumrah Aqabah. Menurut C.Bihar Anwar dalam bukunya “ASQ For Haji”, angka 3 ini melambangkan 3 aspek Tauhid, yaitu Tauhid perbuatan, Tauhid sifat dan Tauhid dzat. Bahwa segala perbuatan dan kegiatan kita adalah semata-mata untuk mencari Ridla Allah, bahwa sifat-sifat kita harus mencerminkan suara hati yang merupakan amanah Allah melalui tiupan Ruh Ilahi yang bersumber dari Asmaul Husna, dan bahwa tiada yang kekal selain dzat Allah.

Melontar jumrah harus mengenai tembok yang berdiri di tengah sumur, hal ini menuntut perjuangan yang gigih dan kesabaran. Inilah pesan Allah bahwa jamaah haji harus gigih melawan hawa nafsu, harus benar-benar menjadi hamba Allah dan jangan lagi mau diperbudak oleh nafsu. Menurut ahli kejiwaan Maisarah dalam bukunya “Haji dan Pencerahan Jati Diri Muslim”, nafsu adalah dorongan untuk memenuhi kebutuhan seseorang sehingga mencapai kepuasan dengan segera dan berlebihan. Nafsu cenderung menyuruh kepada perbuatan tercela, dan nafsu yang bersarang di dalam hati manusia dikendalikan oleh setan/iblis. Dekatnya setan dengan manusia dinyatakan oleh Rasulullah bahwa setan itu masuk ke dalam aliran darah manusia (Hadis Nabi). Oleh karena itu di dalam melontar jumrah harus memaksimalkan kecerdasan ASQ, yaitu kegigihan fitriah untuk melawan hawa nafsu, untuk mencampakkan setan dalam hati, melemparkan batu kerikil dengan semangat perlawanan untuk mematikan symbol keberadaan setan. Disinilah kita harus ingat akan ikrar iblis :

“Iblis mengatakan : Tuhanku, karena Engkau telah menilaiku sesat, niscaya akan kuhiasi kehidupan manusia di dunia dan akan kusesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambaMu di antara mereka yang ikhlas hidup mentaati petunjuk-petunjukMu” (QS. Al Hijr : 39-40)



Last Updated ( Thursday, 09 July 2009 05:14 )