Article Index
Serial "Sains Al-Qur'an"
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
All Pages

FENOMENA ALAM DAN KECERDASAN SPIRITUAL

Oleh : Bambang-Sulies


Kecerdasan Spiritual (SQ).

Menurut Zohar dan Marshall, pakar psikhologi yang mengemukakan tentang formulasi kecerdasan spiritual, mengatakan bahwa SQ adalah kecerdasan tertinggi manusia (the ultimate intelligence), meskipun (menurut pendapat mereka) tidak selalu berkaitan dengan agama.

Kenyataan memang bisa jadi orang yang tidak beragama justru menunjukkan karakter yang baik sebagai cirri-ciri spiritualitas yang tinggi, atau bisa jadi orang yang tidak beragama islam justru aklhaknya lebih islami dari orang lain yang beragama islam. Namun bagi orang yang taat beragama, tentu saja SQ sangat berhubungan erat dengan tingkat pengamalan agamanya. Bagi seorang pemeluk Agama Islam, kecerdasan spiritual sangat dipengaruhi oleh tingkat keimanan dan ketakwaannya. Jika orang yang mengaku beragama islam tidak menunjukkan akhlak islami, berarti kemungkinan orang tersebut belum memahami agamanya, atau sudah paham tetapi belum mengimplementasikan keimanannya.

Implementasi dari keimanan dan ketakwaan akan melahirkan ciri-ciri orang yang mempunyai SQ tinggi. Ciri-ciri orang yang cerdas spiritual sebagaimana dikemukakan oleh Zohar dan Marshall, antara lain kemampuan untuk menghayati nilai dan makna hidup, memiliki kesadaran diri, fleksibel dan adaptif, cenderung untuk memandang sesuatu secara holistik, serta berkecenderungan untuk mencari jawaban-jawaban fundamental atas situasi-situasi hidupnya, dll.

Bagi orang yang taat dalam beragama, maka SQ mencerminkan kecerdasan untuk memaknai hidup, memahami siapa dirinya sehingga tunduk kepada Tuhannya. Orang yang cerdas spiritual (SQ tinggi) selalu mengingat tentang jati dirinya, mempunyai visi jangka panjang berupa kebahagiaan di surga, dan mempunyai misi yang jelas dalam menjalani hidupnya. Bagi seorang muslim, ciri-ciri SQ yang tinggi adalah mempunyai mental Islam yang kuat melalui implementasi 6 rukun Iman 5 rukun Islam Mental dan karakter yang dibangun dengan pondasi Islam akan melahirkan generasi muslim yang berakhlak islami.

Tadabur alam dapat meningkatkan kecerdasan spiritual individu, karena melalui tadabur alam akan menimbulkan kesadaran betapa manusia sangatlah tak berdaya di hadapan Allah Yang Maha Besar, Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Banyak sekali ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang fenomena langit dan bumi, yang semuanya itu tidak bertentangan dengan penemuan para ahli astronomi di abad modern ini.

Penciptaan Langit dan Bumi

Penciptaan langit dan bumi adalah Kalimat Allah. Untuk memahaminya kita perlu menengok waktu kira-kira 2500 tahun yang lalu. Kira-kira pada Tahun 400 SM, seorang ilmuwan bernama Plato berpendapat bahwa bumi itu berbentuk datar. Hal ini dibantah oleh ilmuwan lain bernama Ptolomeus, pada era 140 M, yang mengatakan bahwa bumi itu berbentuk bulat, dan matahari berputar mengelilingi bumi. Pendapat ini bertahan selama 13 abad. Selanjutnya pada Tahun sekitar 1500 M seorang ilmuwan bernama Copernicus membantahnya, dia mengatakan bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi, melainkan bumi berputar mengelilingi matahari. Karena pendapat ini bertentangan dengan dogma penguasa waktu itu, maka Copernicus dihukum mati. Namun pendapat Copernicus ini tetap dipertahankan oleh seorang ilmuwan bernama Galileo Galilei yang akhirnya dihukum dan meninggal dalam penjara pada sekitar Tahun 1600 M.

Saat itu belum ada teori yang mengungkapkan tentang penciptaan alam semesta, hingga pada Tahun 1905, seorang ilmuwan modern bernama Albert Einstein mengemukakan bahwa alam semesta itu statis, tidak menyempit dan tidak meluas, tidak diciptakan dan tidak akan pernah berakhir. Pendapat ini didukung oleh kaum atheis yang tidak percaya adanya Tuhan. Namun pendapat ini batal ketika pada Tahun 1990, teleskop Hubble yang diletakkan di luar angkasa oleh NASA menangkap fenomena alam yang bertolak belakang, bahwa ternyata alam semesta tidaklah statis, tetapi semakin meluas. Berbagai benda langit seperti bintang-bintang, matahari, dan planet-planet sedang bergerak saling menjauh. Penemuan ini selanjutnya dikembangkan dalam teori big bang, yang menyatakan bahwa seluruh alam semesta ini, seluruh langit dan bumi dahulunya (milyaran tahun yang lalu) berimpit sebagai sebuah benda yang bersatu padu, lalu benda dengan kepadatan luar biasa itu mengalami ledakan besar yang sangat dahsyat.

Ledakan besar Big Bang, awal penciptaan alam semesta.

Sumber : www.creationofuniverse.com


Setelah terjadi ledakan dahsyat (big bang), dalam kurun waktu sekitar 13 milyar tahun terbentuklah matahari-matahari, planet-planet dan bulan seperti yang ada sekarang ini. Diperkirakan usia bumi kita ini sekitar 5 milyar tahun. Kejadian alam yang dibuktikan dengan peralatan serba canggih di abad modern ini, dengan perhitungan matematis yang sangat rumit, ternyata telah disampaikan oleh seorang manusia, seorang Nabi yang Ummi :

“Apakah orang-orang kafir itu tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu dahulu adalah sesuatu yang padu, lalu Kami pisahkan keduanya dengan kekuatan, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tiada juga beriman?”(QS. Al Anbiyya : 30)

Bayangkan ilmu yang ditemukan beberapa tahun yang lalu, di abad modern era 1990an M, telah dikemukakan oleh Nabi Muhammad SAW yang ummi, pada era Tahun 600an M, sekitar 1400 tahun yang lalu. Ketika Rasulullah mengemukakan fenomena alam yang dahsyat itu belum ada sekolah apalagi teknologi modern seperti teleskop Hubble yang sangat canggih saat ini. Jadi mungkinkah ilmu pengetahuan yang dikemukakan Nabi Muhammad SAW itu adalah kalimat Nabi sendiri? Mungkinkah itu kalimat seorang manusia? Kalau bukan kalimat manusia lalu kalimat siapa? Nabi Muhammad SAW juga mengemukakan fakta yang mendukung teori Big Bang di atas:

“Langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya” (QS. Adz-Dzaariyaat : 47)

Sekali lagi, kalimat-kalimat yang sarat dengan ilmu pengetahuan modern yang diucapkan 1400 tahun yang lalu itu kalimat siapa? Mungkinkah itu kalimat manusia yang ummi? Kalu tidak mungkin, lalu kalimat siapa? Itulah Kalimat Allah, yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Itulah Mukjizat Al Qur’an, yang dapat disaksikan oleh manusia sepanjang jaman. Berbeda dengan mukjizat nabi-nabi yang lain, yang hanya dapat disaksikan oleh kaumnya yang hidup pada masa itu. Sekarang ini kita tidak dapat lagi menyaksikan Mukjizat Nabi Musa as ketika tongkatnya membelah lautan, atau mukjizat Nabi Isa as ketika menghidupkan orang mati, atau Mukjizat Nabi Muhammad saw ketika mengeluarkan air dari sela-sela jari tangannya. Namun Mukjizat Nabi Muhammad saw yang berupa Al Qur’an dapat disaksikan sepanjang masa, isinya selalu up to date, tak pernah ketinggalan jaman, sarat dengan berbagai bidang keilmuan, dan dijamin kemurniannya hingga akhir jaman sebagaimana Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hir : 9)

Nabi Muhammad saw yang ummi kala itu memang tidak bisa membaca dan menulis, namun demikian manusia yang paling mulia itu memiliki kecerdasan yang luar biasa. Kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual yang begitu sempurna dan seimbang dalam diri Rasulullah itu telah mengantar kesuksesan Nabi Muhammad saw dalam bermacam peranan: sebagai pemimpin spiritual utusan Allah, sebagai pemimpin negara yang adil dan disegani, sebagai panglima perang yang tangguh, dan sekaligus sebagai kepala keluarga yang penuh kasih sayang. Keadaan ummi yang dimiliki Nabi Muhammad saw saat itu memang sebuah rencana cerdas yang dirancang oleh Allah SWT sebagaimana FirmanNya :”Dan kamu (sebelum turun Al Qur”an) tidak bisa membaca kitab apapun dan kamu tidak bisa menulis dengan tangan kananmu. (Sekiranya kamu bisa membaca dan menulis) barang tentu akan sangsi orang-orang yang membantah (tidak membenarkan Al Qur’an)” (QS. Al Ankabut : 48)

Sekiranya Nabi Muhammad saw dapat membaca dan menulis saat turunnya wahyu, barangkali orang-orang kafir akan membantah dan yakin bahwa Al Qur’an itu dibuat atau dikarang oleh Nabi Muhammad saw sendiri. Meskipun keadaan ummi sang nabi sering menuai umpatan kata-kata ”gila” atau ”tidak masuk akal” atau ”ilmu sihir” ketika Nabi yang mulia ini menyampaikan ayat-ayat Al Qur”an yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tentang fenomena alam semesta, tentang ilmu-ilmu sosial dan ilmu pasti, namun umpatan mereka sekarang justru berbalik menjadi bukti akan kebenaran Al Qur’an setelah ilmu pengetahuan semakin maju.


Pergantian Siang dan Malam

Ayat-ayat ilmiah dalam Al Qur’an mencakup berbagai bidang ilmu pengetahuan, mulai dari ilmu Astronomi, ilmu Geologi, ilmu Arkeologi, ilmu Geografi, ilmu pertanian (Agronomi) dan tumbuhan (Botani), ilmu hewan (Zoologi), ilmu serangga (Entomologi), ilmu Biologi, ilmu Kimia dan Fisika, ilmu Kedokteran, ilmu Jiwa, ilmu Ekonomi, ilmu Hukum dan Sosiologi, dan lain-lain. Ilmu Al Qur’an merupakan sumber rujukan abadi ilmu pengetahun modern, yang lebih dulu menjangkau ke depan melampaui kemampuan pengetahuan manusia. Telah banyak fakta bahwa setiap ditemukan ilmu pengetahuan yang paling modern, maka sesungguhnya telah tertulis di dalam Al Qur’an 1400 tahun yang lalu.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar” (QS. Fushshilat : 53)

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan mazilah-manzilah (orbit) sehingga setelah dia sampai pada manzilah yang terakhir , kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidak mungkin matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis orbitnya” (QS. Yaasin : 39-40)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir,.....” (QS. Ali Imran : 190)

Tata surya matahari : Matahari sebagai pusat edar bagi 9 planet.

Sumber : NASA ”Deep Space Explorer”

Dari ayat di atas dapat ditangkap pesan Allah bahwa bumi berbentuk bulat, dan berputar (berotasi) pada sumbunya selama 24 jam 15 menit sekali putar, akibatnya belahan bumi yang menghadap matahari mengalami siang dan belahan bumi yang membelakangi matahari mengalami malam. Demikian seterusnya perputaran (rotasi) bumi yang tidak pernah berhenti itu menghasilkan pergantian siang dan malam setiap kurang lebih 12 jam. Ayat di atas juga merupakan kalimat Allah yang menjelaskan tentang perjalanan bulan dalam mengelilingi bumi sehingga kita dapat melihat bulan yang berbentuk bulan sabit, kemudian bulan purnama, lalu kembali ke bulan sabit lagi.

Dalam ayat yang lain Allah juga menjelaskan tentang pergantian siang dan malam , Allah berfirman :

“Katakan : Terangkan kepadaku jika Allah menjadikan untukmu malam terus sampai hari kiamat, siapa Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?” (QS. Al Qashas : 7)

“Katakan: Terangkan kepadaku jika Allah menjadikan untukmu siang terus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Al Qashas : 72)

“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam………” (QS. Ali Imran : 27)

Separoh bumi yang berhadapan dengan matahari mengalami siang dan separoh yang membelakangi matahari mengalami malam.

Sumber : NASA ”Deep Space Explorer”

Meskipun perputaran bumi itu baru dibuktikan oleh para ilmuwan modern pada abad 20, namun telah diberitakan dalam Al Qur’an 14 abad yang lalu. Inilah salah satu dari Mukjizat Al Qur’an. Inilah salah satu bentuk kasih sayang Allah (Ar Rahman-Ar Rahim) kepada makhluknya, Dia yang mengatur dan menjaga agar bumi selalu berputar pada porosnya. Bayangkan kalau bumi tidak berputar pada porosnya (seperti putaran gasing), maka separo bagian bumi yang menghadap matahari akan mengalami siang terus menerus, makin lama makin panas, jangankan sampai kiamat, kalau 10 hari saja siang terus menerus, apa yang akan terjadi? Suhu makin meningkat, semua air akan menguap, bahkan darah di tubuh kita akan mendidih, lalu bagaimana manusia dan makhluk hidup yang lain? Tak akan ada yang bertahan hidup

Kemudian separo bagian bumi yang membelakangi matahari akan mengalamai malam terus menerus. Bayangkan jika 10 hari malam terus menerus, tidak pernah ada siang, apa yang akan terjadi? Suhu makin mendingin, seluruh air akan membeku, darah di tubuh kita juga membeku, proses fotosintesa tumbuhan tidak dapat terjadi, dipastikan juga tak akan ada yang bertahan hidup.


Itulah bukti kasih sayang Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang (ArRahman-Ar Rahim), yang luar biasa tapi kita sering mengabaikannya. Itulah bukti adanya kekuatan Allah Yang Maha Besar (Al Kabir), Maha Berkuasa (Al Qadir), Maha Ilmu (Al ‘Alim) , Maha Kekal (Al Baqi), Maha Esa (Al Ahad), dan lain-lain sifat Allah yang Maha dahsyat. Meskipun bumi kita ini berbentuk bulat dan berputar seperti gasing dengan sangat cepat, dengan kecepatan kira-kira 1600 Km/jam, namun kita di atas bumi ini tetap aman, tidak terjungkir balik, tidak terpental ke mana-mana. Kenapa? Karena Allah telah menciptakan gaya gravitasi pada bumi yang dapat menahan kita agar tetap aman meskipun bumi berputar dengan sangat cepat. Itulah bukti adanya kekuatan Allah Yang Maha Menjaga (Al Mukmin), Yang Maha Menyeimbangkan (Al Muhsit), dan Yang Maha teliti atau cermat (Al Muhsi).

Bumi yang kita tempati ini selalu tunduk pada perintah Allah, berputar seperti gasing (berotasi) tanpa henti, dan juga berjalan mengelilingi matahari (berevolusi) tanpa henti, tak pernah lelah dan membantah, padahal bumi tidak diberi akal. Lalu mengapa kita, manusia yang diberi akal masih saja sering membantah dan tidak tunduk secara total kepada perintah Allah? Bahwa sesungguhnya ketika kita sholat berjamaah, kita tidak hanya berjamaah dengan orang lain, tapi kita juga berjamaah dengan bumi, bulan, matahari, planet-planet dan galaksi-galaksi di alam semesta. Kenapa demikian? Karena secara fisik, gerakan sholat itu identik dengan gerakakan berputar (tawaf) yang mengandung unsur sudut 360o sekali putar. Ketika benda-benda angkasa dan juga jamaah haji sedang berputar (tawaf), kita yang sedang sholat juga identik dengan tawaf, satu rakaat identik dengan satu putaran tawaf. Maka tanpa kita sadari, setiap kali sholat, kita berjamaah dengan bumi tempat kita berdiri

Gerakan sholat. Dalam satu rakaat mengandung gerakan memutar 360o,

setara dengan satu kali putaran tawaf, 360o sekali putar

Orang yang mengaku muslim tapi tidak mendirikan sholat sama saja dengan bumi yang tidak berputar, bulan tidak berputar, planet-planet tidak berputar, matahari dan bintang-bintang lain juga tidak berputar. Apa akibatnya jika semua benda angkasa berhenti berputar? Maka benda-benda angkasa itu akan tertarik ke arah pusat edarnya dengan gaya gravitasi yang sangat besar, lalu terbakar dan hancur. Demikian pula seorang muslim yang tidak sholat berarti merusak keseimbangan alam, menghancurkan tatanan kehidupan masyarakat. Demi untuk menjaga sunatullah itulah maka Allah memerintahkan sholat sebagai ritual ibadah yang sangat penting, yang tidak dapat ditinggalkan meskipun sedang sakit. Orang sakit, selama masih ada kesadaran tetap wajib menjalankan sholat, dengan fasilitas keringanan yang diberikan Allah. Seorang muslim yang tidak sholat sangat berpotensi merusak jati dirinya karena tidak dapat mengimplementasikan makna sholat ke dalam perilakunya.

Setiap benda di alam ini selalu bergerak berputar untuk menjaga keseimbangan. Dalam alam mikro, pada bagian terkecil dari setiap benda yang disebut atom, elektron-elektron selalu berputar mengelilingi inti (pusat) atom, disamping melakukan putaran rotasi dengan arah berlawanan dengan jarum jam seperti perputaran (rotasi) bumi.

Elektron dalam atom senantiasa berputar mengelilingi inti atom.

Sumber : www.creationofuniverse.com

Dalam alam makro, bumi bersama 8 planet yang lain (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto) berputar mengelilingi matahari (dalam tata surya matahari kita). Kemudian matahari bersama bumi, 8 planet yang lain dan puluhan bulan juga berputar mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti. Apakah galaksi Bimasakti hanya mempunyai satu matahari, bumi dan 8 planet itu? Ternyata tidak!. Galaksi Bimasakti mempunyai sekitar 100 milyar matahari. Perjalanan matahari ini juga telah telah dijelaskan dalam Al Qur’an 1400 tahun yang lalu :

“Dan Matahari berjalan di tempat peredarannya untuk masa yang telah ditentukan baginya. Itulah ketetapan dari Yang Maha Kuasa lagi Maha mengetahui. Dan bagi bulan telah Kami tetapkan manzilah-manzilah, sehingga dia kembali sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin matahari menyusul bulan dan tidak mungkin malam mendahului siang karena semua beredar pada garis orbitnya” (QS. Yasiin : 38-40)

Black Hole : Pusat edar Galaksi Bimasakti .

Sumber : www.creationofuniverse.com

Ini adalah ilmu pengetahuan modern. Perjalanan matahari mengelilingi pusat galaksi bimasakti (yang disebut black hole) baru diketahui oleh para ilmuwan modern pada akhir abad ke 20, namun telah diucapkan oleh seorang Nabi yang ummi, yang tidak dapat membaca dan menulis, dan belum ada teleskop. Inilah Firman Allah yang diwahyukan ke dalam kalbu Nabi Muhammad SAW. Inilah Mukjizat Al Qur’an yang akan selalu up to date sepanjang jaman.


Apakah di langit sana hanya ada satu galaksi saja, yaitu Galaksi Bimasakti itu? Ternyata tidak!. Galaksi bimasakti bersama galaksi-galaksi lain (sekitar 100 milyar galaksi lain) membentuk kluster galaksi. Selanjutnya system kluster galaksi yang terdiri atas trilyunan benda-benda angkasa seperti matahari, planet, bulan, meteor, asteroid, dan lai-lain juga berputar (tawaf) mengelilingi pusat galaksi, yang oleh NASA disebut ”Monster Black Hole” karena ukurannya yang jauh lebih besar dibandingkan blask hole dalam galaksi bimasakti. Apakah hanya itu alam smesta ini? Subhanallah, ternyata kluster galaksi yang berisi trilyunan matahari itu tidak hanya satu, tapi masih ada sekitar 100 milyar lagi di sana, dan semuanya berputar (tawaf) mengelilingi pusat yang entah berada di mana karena hingga saat ini belum ada teleskop tercanggih yang berhasil memotretnya. NASA sendiri mengakui bahwa penjelajahan alam semesta hingga sekarang ini kira-kira baru sebesar 3 % dari seluruh alam semesta. Dan itupun masih di langit kesatu, padahal Allah telah menciptakan tujuh langit, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an :

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah yang tidak seimbang. Lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al Mulk : 3)

Galaksi Bimasakti : Mempunyai sekitar 100 milyar matahari,

semuanya berputar mengelilingi pusat (Black Hole)

Sumber : www.creationofuniverse.com

Jadi dapat dibayangkan betapa luas jagat raya ini!. Di langit Allah ini ada bermilyar-milyar matahari, planet dan bulan, sehingga benda-benda angkasa jumlahnya trilyunan! Dan itu masih di langit kesatu, sedangkan Allah telah menciptakan tujuh langit sebagimana dijelaskan dalam ayat di atas. Dan planet bumi yang kita tempati ini sangatlah kecil di antara benda-benda langit yang berjumlah trilyunan itu, bagaikan sebutir pasir di antara seluruh pasir yang terhampar di seluruh permukaan bumi. Dan disanalah manusia tinggal dengan berbagai kesombongannya. Betapa bumi kita ini sangat rapuh dengan berbagai ancaman bahaya dari luar angkasa maupun dari dalam bumi sendiri, dan kita yang tinggal disana sungguh tidak punya kekuatan apa-apa terhadap kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa, pemilik langit dan bumi.

Sebuah penemuan spektakuler di bidang Astronomi yang direkam oleh NASA (Lembaga Astronomi Amerika Serikat) di akhir abad 20 tentang NEBULA juga telah diberitakan dalam Al Qur’an 14 abad yang lalu. NEBULA merupakan kumpulan benda angkasa yang berbentuk seperti bunga mawar merah, yang merupakan cikal bakal terbentuknya planet-planet baru yang akan membentuk galaksi baru. Nebula yang tertangkap oleh kamera candra milik NASA itu tampak sangat indah seperti bunga mawar merah sebagai mana diberitakan dalam Al Qur’an 1400 tahun yang lalu :

“Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan minyak). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan” (QS. Ar Rahmaan : 37-38)

Cat’s Eye Nebula : Kumpulan benda-benda angkasa bagaikan bunga mawar merah, awan kosmis cikal bakal terbentuknya planet-planet dan galaksi baru.

Sumber : NASA ”Deep Space Explorer”

Meskipun hanya beberapa ayat yang kita kupas dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, mudah-mudahan hal ini dapat menggugah kita untuk senantiasa mempelajari ayat-ayat Allah yang tersurat dalam Al Qur’an maupun yang tersirat dalam setiap gejala dan kejadian alam. Begitu luas kalimat Allah. Misalnya keseimbangan langit dan bumi di jagat raya ini adalah kalimat Allah, tanaman yang tumbuh dan mati adalah kalimat Allah, jantung kita yang berdenyut adalah kalimat Allah, paru-paru kita yang kembang kempis adalah kalimat Allah, awan yang berjalan dan hujan yang turun dari langit adalah kalimat Allah. Gempa dan gelombang tsunami di Aceh adalah kalimat Allah, sebagai akibat pertemuan dua lempeng bumi yang senantiasa begerak, sebagaimana Firman Allah SWT :

“Dan lihatlah gunung-gunung itu kamu kira mereka diam di tempatnya padahal mereka berjalan sebagaimana jalannya awan. Demikianlah perbuatan Allah yang membuat segala sesuatu dengan kokoh dan Allah Maha Mengetahui segala yang kamu kerjakan” (QS. An Naml :88)

Gunung-gunung senantiasa bergerak di atas lempengan bumi

Sumber : merapi.vsi.esdm.go.id

Menurut para ahli geologi, gunung-gunung itu berjalan bersama lempengan bumi yang menyangga benua, yang bergerak dengan kecepatan 1-12 cm per tahun. Pergerakan dan pertemuan dua lempeng bumi itulah yang menyebabkan terjadinya gempa, dan gempa yang dahsyat di dasar laut dapat disusul dengan gelombang tsunami seperti yang terjadi di Aceh dan pantai Pangandaran. Semua itu adalah kalimat Allah dan seluruh alam semesta ini tunduk pada perintahNya. Kalimat Allah itu tak kan pernah cukup kita tulis dan tak kan pernah tuntas dibahas oleh manusia sebagaimana Firmannya :

“Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula” (QS. Al-Kahfi : 109)


Jadi kalau lempeng bumi, gunung-gunung, awan, matahari, bulan, planet, dan seluruh alam ini tunduk pada perintah Allah yang Maha Perkasa, kenapa kita manusia yang diberi akal masih saja sering mengingkari ayat-ayat Allah, melanggar larangan Allah pemilik langit dan bumi? Kenapa manusia masih suka menyombongkan diri dengan hartanya, dengan jabatannya, dengan kekuasaannya, dengan kecantikannya, dengan ilmunya, dan bahkan semua urusan duniawinya itu telah menggantikan kedudukan Allah di dalam hatinya? Padahal bagi Allah mudah saja untuk menggantikan semua itu dengan hal yang sebaliknya.

Merenungkan dan memahami Kalimat Allah akan dapat meningkatkan kualitas keimanan seseorang, yang dikenal sebagai kecerdasan spiritual atau Spirituality Quotient (SQ). Bagaimanakah cara mengukur kualitas keimanan atau kecerdasan spiritual ? Kecerdasan spiritual seseorang dapat diukur dengan beberapa parameter, di antaranya sebagai berikut :

  1. Getaran hati. Apakah seseorang lebih dekat kepada Allah atau lebih dekat kepada nafsu, dapat terukur dari respons spontan (getaran hati) ketika mendengar kata Allah . “…orang-orang beriman itu adalah mereka, yang apabila disebut nama Allah, maka bergetarlah hati mereka” (QS. Al Hajj : 35) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah maka gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, maka bertambahlah iman mereka karenanya, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. (8) Al Anfaal : 2). Orang yang hatinya selalu bergetar ketika mendengar atau menyebut nama Allah, menandakan kekuatan imannya sehingga hanya Allah yang ada dalam hatinya. Sedangkan orang yang tidak pernah bergetar hatinya ketika mendengar atau menyebut nama Allah, kemungkinan besar karena hawa nafsu telah menguasai hatinya.
  2. Tingkat pengagungan terhadap syir-syiar Allah. Kedekatan seseoarng kepada Allah dapat dilihat dari tingkat pengagungannya terhadap syiar-syiar Allah seperti Ka’bah, Al qur’an, Sholat dan Nabi (disebut 4 syiar Allah). “Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al Hajj : 32)
  3. Kecermatan membaca Kalimat Allah. Kedekatan seseoarng kepada Allah dapat dilihat dari Respons getaran hati ketika menyaksikan peristiwa alam yang semuanya merupakan Kalimat Allah, seperti gerhana, gempa bumi, gunung meletus, kilat dan petir, keindahan panorama alam, dan lain-lain.

Lalu bagaimanakah cara meningkatkan kecerdasan spiritual, jika kecerdasan spiritual kita masih rendah? Bukankah hati kita belum begitu bergetar ketika mendengar kata Allah, bahkan kita masih sering menyebut kata Allah sambil lalu saja, kita sholat tidak khusyu’, kita membaca Al qur’an seperti membaca koran, kita melihat Ka’bah seperti melihat bangunan yang berbentuk kubus saja, dan kita jarang atau bahkan tidak pernah merindukan Nabi Muhammad saw seperti merindukan keluarga kita. Maka untuk meningkatkan kecerdasan spiritual, kita harus banyak-banyak berzikir mengingat Allah sebagimana diperintahkan olehNya dalam Firmannya:

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram” (QS. Ar Raad : 28)

Selain itu kita harus meningkatkan pemahaman terhadap ayat-ayat Al Qur’an, merenungkan setiap kejadian di alam maupun pada diri kita sendiri sebagai Kalimat Allah. Kita harus selalu rindu dan meneladani sifat-sifat mulia dan perjuangan Rasulullah dalam menegakkan Kalimat Allah. Kita juga harus lebih banyak mempelajari tentang Ka’bah, Rumah Allah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as dan Ismail as, dan kita belajar mencintai Allah sebagimana Nabi Ibrahim as dan keluarganya .

Untuk mencapai kecerdasan spiritualitas yang tinggi, hendaknya kita melakukan semua ibadah mulai dari syahadat, sholat, zakat dan Haji, dengan hati yang ikhlas semata-mata karena Allah, sehingga kita dhindarkan dari perbuatan yang melanggar larangan Allah. Kenapa seseorang melanggar larangan Allah? Pertama, dia tidak menyadari bahwa hawa nafsunya telah menggerogoti hati nurani atau fitrahnya. Kedua, dia melakukan ibadah hanya sekedar melakukan kewajiban saja, tidak ada niat untuk melawan hawa nafsunya . Kegigihan seseorang melawan hawa nafsu dan menghadapi rintangan menuju kesempurnaan melalui suasana batin yang selalu terkait kepada Allah SWT dikenal sebagai Adversity Spiritual Quotient (ASQ). Semakin tinggi ASQ seseorang, maka makin tinggi keyakinannya untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya komitmen.

Ibadah dengan ASQ yang rendah (tanpa melawan hawa nafsu) adalah seperti orang sakit yang minum obat tapi tidak mau pantang makanan yang menjadi pemicu penyakitnya. Seperti orang yang minum obat untuk darah tinggi tetapi tidak mau pantang makan daging kambing, atau orang yang minum obat untuk penyakit gula tetapi tidak mau diet gula, sehingga obat yang diminum tidak memberikan efek positip seperti yang diharapkan berupa kesembuhan. Demikian pula halnya seseorang yang rajin beribadah tanpa disertai melawan nafsu, maka ibadahnya itu tidak akan mengobati penyakit hatinya seperti rasa malas dan terpaksa dalam menjalankan ibadah, sikap riya’ ketika memberikan zakat atau membantu orang lain, rasa ujub, dan membanggakan diri, serta rasa iri dan dengki terhadap orang lain. Wallahualam bishawab.

Beberapa judul tauziah lainnya dalam serial Sains dan Al Qur’an:

  • Perjalanan Gunung-gunung
  • Tujuh Lapis Langit yang Senantiasa Bertasbih
  • Tanda-tanda Kebesaran Allah di Alam Semesta dan Dalam Diri Manusia
  • Mukjizat Al Qur’an dalam Penciptaan Unta
  • Mukjizat Al Qur’an di balik Khasiat Madu
  • Mukjizat Al Qur’an dalam Matematika
  • Membangun Kecerdasan berdasarkan Al Qur’an
  • Dan lain-lain

(Bambang-Sulies. E-mail: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )

Last Updated ( Saturday, 16 October 2010 03:29 )