Article Index
Serial "Sains Al-Qur'an"
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
Page 6
All Pages

Jadi kalau lempeng bumi, gunung-gunung, awan, matahari, bulan, planet, dan seluruh alam ini tunduk pada perintah Allah yang Maha Perkasa, kenapa kita manusia yang diberi akal masih saja sering mengingkari ayat-ayat Allah, melanggar larangan Allah pemilik langit dan bumi? Kenapa manusia masih suka menyombongkan diri dengan hartanya, dengan jabatannya, dengan kekuasaannya, dengan kecantikannya, dengan ilmunya, dan bahkan semua urusan duniawinya itu telah menggantikan kedudukan Allah di dalam hatinya? Padahal bagi Allah mudah saja untuk menggantikan semua itu dengan hal yang sebaliknya.

Merenungkan dan memahami Kalimat Allah akan dapat meningkatkan kualitas keimanan seseorang, yang dikenal sebagai kecerdasan spiritual atau Spirituality Quotient (SQ). Bagaimanakah cara mengukur kualitas keimanan atau kecerdasan spiritual ? Kecerdasan spiritual seseorang dapat diukur dengan beberapa parameter, di antaranya sebagai berikut :

  1. Getaran hati. Apakah seseorang lebih dekat kepada Allah atau lebih dekat kepada nafsu, dapat terukur dari respons spontan (getaran hati) ketika mendengar kata Allah . “…orang-orang beriman itu adalah mereka, yang apabila disebut nama Allah, maka bergetarlah hati mereka” (QS. Al Hajj : 35) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah maka gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, maka bertambahlah iman mereka karenanya, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. (8) Al Anfaal : 2). Orang yang hatinya selalu bergetar ketika mendengar atau menyebut nama Allah, menandakan kekuatan imannya sehingga hanya Allah yang ada dalam hatinya. Sedangkan orang yang tidak pernah bergetar hatinya ketika mendengar atau menyebut nama Allah, kemungkinan besar karena hawa nafsu telah menguasai hatinya.
  2. Tingkat pengagungan terhadap syir-syiar Allah. Kedekatan seseoarng kepada Allah dapat dilihat dari tingkat pengagungannya terhadap syiar-syiar Allah seperti Ka’bah, Al qur’an, Sholat dan Nabi (disebut 4 syiar Allah). “Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al Hajj : 32)
  3. Kecermatan membaca Kalimat Allah. Kedekatan seseoarng kepada Allah dapat dilihat dari Respons getaran hati ketika menyaksikan peristiwa alam yang semuanya merupakan Kalimat Allah, seperti gerhana, gempa bumi, gunung meletus, kilat dan petir, keindahan panorama alam, dan lain-lain.

Lalu bagaimanakah cara meningkatkan kecerdasan spiritual, jika kecerdasan spiritual kita masih rendah? Bukankah hati kita belum begitu bergetar ketika mendengar kata Allah, bahkan kita masih sering menyebut kata Allah sambil lalu saja, kita sholat tidak khusyu’, kita membaca Al qur’an seperti membaca koran, kita melihat Ka’bah seperti melihat bangunan yang berbentuk kubus saja, dan kita jarang atau bahkan tidak pernah merindukan Nabi Muhammad saw seperti merindukan keluarga kita. Maka untuk meningkatkan kecerdasan spiritual, kita harus banyak-banyak berzikir mengingat Allah sebagimana diperintahkan olehNya dalam Firmannya:

“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram” (QS. Ar Raad : 28)

Selain itu kita harus meningkatkan pemahaman terhadap ayat-ayat Al Qur’an, merenungkan setiap kejadian di alam maupun pada diri kita sendiri sebagai Kalimat Allah. Kita harus selalu rindu dan meneladani sifat-sifat mulia dan perjuangan Rasulullah dalam menegakkan Kalimat Allah. Kita juga harus lebih banyak mempelajari tentang Ka’bah, Rumah Allah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as dan Ismail as, dan kita belajar mencintai Allah sebagimana Nabi Ibrahim as dan keluarganya .

Untuk mencapai kecerdasan spiritualitas yang tinggi, hendaknya kita melakukan semua ibadah mulai dari syahadat, sholat, zakat dan Haji, dengan hati yang ikhlas semata-mata karena Allah, sehingga kita dhindarkan dari perbuatan yang melanggar larangan Allah. Kenapa seseorang melanggar larangan Allah? Pertama, dia tidak menyadari bahwa hawa nafsunya telah menggerogoti hati nurani atau fitrahnya. Kedua, dia melakukan ibadah hanya sekedar melakukan kewajiban saja, tidak ada niat untuk melawan hawa nafsunya . Kegigihan seseorang melawan hawa nafsu dan menghadapi rintangan menuju kesempurnaan melalui suasana batin yang selalu terkait kepada Allah SWT dikenal sebagai Adversity Spiritual Quotient (ASQ). Semakin tinggi ASQ seseorang, maka makin tinggi keyakinannya untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya komitmen.

Ibadah dengan ASQ yang rendah (tanpa melawan hawa nafsu) adalah seperti orang sakit yang minum obat tapi tidak mau pantang makanan yang menjadi pemicu penyakitnya. Seperti orang yang minum obat untuk darah tinggi tetapi tidak mau pantang makan daging kambing, atau orang yang minum obat untuk penyakit gula tetapi tidak mau diet gula, sehingga obat yang diminum tidak memberikan efek positip seperti yang diharapkan berupa kesembuhan. Demikian pula halnya seseorang yang rajin beribadah tanpa disertai melawan nafsu, maka ibadahnya itu tidak akan mengobati penyakit hatinya seperti rasa malas dan terpaksa dalam menjalankan ibadah, sikap riya’ ketika memberikan zakat atau membantu orang lain, rasa ujub, dan membanggakan diri, serta rasa iri dan dengki terhadap orang lain. Wallahualam bishawab.

Beberapa judul tauziah lainnya dalam serial Sains dan Al Qur’an:

  • Perjalanan Gunung-gunung
  • Tujuh Lapis Langit yang Senantiasa Bertasbih
  • Tanda-tanda Kebesaran Allah di Alam Semesta dan Dalam Diri Manusia
  • Mukjizat Al Qur’an dalam Penciptaan Unta
  • Mukjizat Al Qur’an di balik Khasiat Madu
  • Mukjizat Al Qur’an dalam Matematika
  • Membangun Kecerdasan berdasarkan Al Qur’an
  • Dan lain-lain

(Bambang-Sulies. E-mail: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )



Last Updated ( Saturday, 16 October 2010 03:29 )